Adli

3:57 AM

(0) Comments

Masih setengah mengantuk, kupandang wajah laki-laki tercinta di hadapanku. Kusentuh dan kubelai pipinya dengan jemariku. Ah, aku suka sekali melihat wajahnya saat tidur. Tanpa sadar aku tersenyum. Lalu perlahan wajahku mendekati wajahnya. Bibirku pun menyentuh bibir tanpa ekspresinya. Lihat, ada gerakan kecil di kelopak matanya. Kulanjutkan ciumanku. Bibirku mulai menjalar ke pipi, terus hingga ke telinga yang tertutup rambut hitam lurusnya itu. Kuemut cuping telinganya. Kepalanya bergerak pelan. “Bangun, Cntahh! Subuhan dulu, yuk!” bisikku di telinganya.

Dia tersenyum dan tertawa kecil, perlahan matanya terbuka, dipandanginya wajahku dengan perasaan sayang. Tiba-tiba dia menggulingku hingga aku terlentang lagi di tempat tidur. Ditekannya bibirnya ke bibirku. Kami pun kemudian berciuman dengan liar. Tangannya mulai menelusup ke dalam kaosku dan meremas payudara 34B-ku dengan nakalnya. Karena baru bangun tidur, tentu saja aku tidak menggunakan bra. Putingku dijepit jempol dan jari telunjuknya, kemudian diputarnya pelan-pelan. Bibirnya mulai menciumi leherku.

Dihisapnya pelan di sana, tepat di bawah telingaku. Lalu dia mengangkat kaos putih tipis yang kupakai tadi malam hingga sebatas leher. Diciumnya salah satu payudaraku, sambil tangannya terus meremas payudaraku yang lain. Lidahnya pun sekarang ikut menjelajahi gunung empuk itu. Ahh… Rasa geli yang nikmat mulai menyerang. Kuremas rambutnya dengan tidak teratur. Tiba-tiba, putingku yang mulai mengencang digigitnya pelan-pelan. Lalu dengan satu hisapan kuat dia akhiri penjelajahannya di daerah itu dan kembali mencium bibirku. Sambil memeluk tubuhku, dia berbisik pelan di telinga, “Katanya mau subuhan dulu, Mah?”

“Aaaahhh, papah nakaaal!” rajukku manja, memukul dadanya dengan pelan.
Sambil tertawa kecil, dia menarikku bangun. “Ayo, subuhan dulu! Tar waktunya abis.”
”Iya, iya. Bawel ah! Papah sih, pake acara gangguin Ma kek gitu.” Sahutku, masih cemberut juga.
“Wew, Mah yang duluan gangguin Pap kok.” balasnya, sambil memencet hidungku.
Akhirnya dengan berjamaah kami laksanakan ritual pagi itu.

Panggil aku Ammah. Usia 24 tahun. Sedangkan suamiku Adli, 25 tahun. Kami menikah bulan Februari tahun lalu. Dan secara garis besar, kami bahagia. Sangat bahagia.

Hari itu minggu pagi. Hari yang asik wat olahraga, sarapan di luar, sekaligus juga wat cuci mata.
Langit terlihat tidak begitu cerah. Tapi awan yang bergelayut juga tidak tebal.

“Asiknya kemana ni, Mah?” tanya Adli sambil memakai baju trainingnya.
“Ma lagi pengen ke pantai. Ke Batu Merah aja, Cntahh.” usulku.
“Ummm. Ok deh! Naik apa nih?” tanyanya lagi setiba di garasi.

Di sana bersanding dengan damainya Honda Jazz Metallic Silver dan Honda SupraX 125D kami. Hondamania neh!

“Naik sepeda tandem aja, Pa. Lagi malas jogging neh” ujarku sambil memeluk lengannya.
“Hihihihi… Lain yang dilihat, lain juga yang dipilih. Tapi ok deh! Apa sih yang ngga wat mamah?” katanya, mencium hidungku.

Dikeluarkannya sebuah sepeda tandem untuk berdua. Batu Merah ga begitu jauh dari rumah kami. Lumayan asyik-lah buat naik sepeda ke sana. Ga jauh, tapi juga ga dekat. Sampai di sana, kami bertemu dengan beberapa teman lain. Sarapan bareng di tepi pantai bener-bener bikin perut dan hati riang Namun tiba-tiba air hujan yang halus mulai berjatuhan. Terpaksa acara sarapan pagi itu harus segera dibubarkan. Dengan mempercepat kayuhan sepeda, kami mulai bergerak pulang. Apa dinyana, di tengah jalan hujan semakin deras saja mengguyur bumi. Benar-benar deras. Sampai kami basah kuyub dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Setiba di rumah, aku langsung ke ruang cuci baju. Adli masih sibuk memarkir sepeda kami. Kubuka kaos putihku yang basah. (Entah kenapa aku suka sekali memakai kaos berwarna putih). Masih menggunakan bra, kubuka celana trainingku. Lengket di tubuh gara-gara air hujan. Terpaksa aku harus menunduk untuk membukanya. Tanganku yang satu menahan tubuhku di mesin cuci, sedang tangan yang satu lagi berusaha menarik celana panjangku di pergelangan kaki. Celana dalam putihku, yang juga basah, menempel ketat di pantatku yang penuh.

Adli yang baru masuk pun ‘terpaksa’ harus melihat pose nunggingku itu dari arah belakang. Dia berjalan mendekat. Masih mengenakan seluruh pakaiannya yang basah, tubuhnya menekan pantatku. Tepat di bagian penisnya. Didorongnya punggungku sehingga aku tetap dalam posisi nungging seperti tadi. Lalu diciumnya punggungku hingga ke leher bagian belakang. “Mah… Lanjutin yang tadi pagi ya?” bisiknya di telingaku. Suaranya terdengar begitu berat dengan nafas yang sedikit memburu. Aku hanya bisa memejamkan mata merasakan desiran darahku yang mulai naik ke kepala..
Sambil terus menggesek-gesekan penisnya yang semakin mengeras di pantatku, tangan Adli kini mulai menjelajah dan meremas payudaraku yang masih dibalut bra basah. Kedua tanganku harus menahan goyangan tubuh kami dengan berpegangan pada mesin cuci.

Adli membalikkan badanku hingga kami berhadap-hadapan. Diciumnya bibirku dengan panas. Nafasku semakin tak beraturan. Lidah kami terus saja berkelidan. Terkadang dijilatinya bibirku. Digigit. Dan dihisapnya. Lalu tiba-tiba dia mengangkat tubuhku hingga terduduk di atas mesin cuci. Kubuka kaos basahnya secepat mungkin. “nTar masuk angin, Cntahh,” bisikku, sambil menelan ludah menyaksikannya bertelanjang dada seperti itu. Adli membuka sendiri celana trainingnya. Sekarang dia hanya memakai celana dalam. Kembali diciumnya bibirku, lalu diteruskannya menuju leher. Saat memelukku, kedua tangannya membuka kaitan braku di bagian belakang dan melepaskannya perlahan sehingga tersembul-lah dua bukit kembarku yang mengencang karena kedinginan, juga karena rangsangan yang semakin kuat. Diusapnya kedua putingku dengan jempolnya. Puting itu kembali tegang seperti tadi pagi. Bahkan kini terlihat semakin tegang dan besar saja. Selama beberapa saat dia hanya memainkan putingku dengan jemarinya. Entah memencet, mencubit atau pun memelintirnya. Tapi mata Adli sesekali menatap mataku juga. Membuatku semakin ingin mencumbunya.

Setelah puas memainkan puting dan meremas payudaraku, Adli mulai menciumnya. Dari leher, bibir Adli terus turun ke bawah. Dijilatinya bagian empuk itu dari satu bukit ke bukit lain, hingga daerah itu kembali basah setelah air hujan yang tadinya juga membasahi daerah itu mengering. Digoyangnya lidahnya di putingku. Aku ga tau, tapi rasanya senang sekali bila dia mengeksplore bagian tubuhku yang lain sambil sesekali menatap mataku. Dia membuatku semakin terangsang saja. Akhirnya Adli mulai mengulum putingku. Mengisapnya seperti bayi yang baru dilahirkan. Menggigitnya. Dan terus saja memainkan lidahnya di daerah itu. Tak lupa tangannya meremas-remas payudaraku yang satunya lagi dengan kencang. Aahhh… Kini aku hanya bisa meremas rambutnya. Mempermainkan bagian belakang telinganya. Juga mengusap lehernya. Terkadang aku mengerang tanpa henti. Membuatnya semakin terangsang untuk segera menyetubuhiku.

Remasan dan sedotan Adli di payudaraku mulai melemah. Kini tangannya memegang pinggulku. Lidahnya kembali menjelajahi bagian kulitku yang lain. Tapi kini semakin turun. Digelitikinya pusarku dengan lidahnya. Adli berlutut di lantai. Kedua tangannya menarik celana dalam yang masih kupakai hingga terlepas dari kakiku. Kini aku telanjang bulat. Adli mendesah melihatku. Setelah setahun menikah, tubuhnya masih juga bergetar begitu melihatku telanjang bulat. Terkadang itu yang membuatku jadi suka sekali menggodanya.

Perlahan Adli membuka lututku menjauh satu sama lain. Bisa kulihat jakunnya turun naik saat daerah berambut di antara kedua kakiku itu terpampang jelas di depan matanya.

- End -

Taglines: Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita Hot, Sensual Writer

ads

freezy

0 Responses to "Adli"

Post a Comment