Arabian Night

12:30 AM

(0) Comments

Saat itu ulang-tahun gue yang ke 28. Cewek gue cakep, badannya pendek, kecil, pinggangnya langsing, pantatnya nonggeng, ukuran toketnya gede buat badannya yang kecil itu. Rambutnya hitam rada ikal, kulitnya putih dan hidungnya mancung. Umurnya kalo nggak salah 22 waktu itu.

Dia ngajak gue keluar makan, tempatnya rahasia katanya, spesial surprise buat gue. Gue nurut aje, pengen tau apa surprisenya. Yang jelas Jasmine, cewek gue itu, dandan ekstra spesial, tapi nggak menor. Dan parfumnya samar-samar merangsang.

Ternyata dia pesen kamar di hotel. Bukan hotel mewah, tapi bukan motel kelas kambing juga. Kamarnya udah didekor a la Timur Tengah, banyak bantal2 bertebaran di karpetnya, oiya dia mesennya suite, jadi agak gede dan ada ruang tamunya. Ada meja rendah juga, ada wangi2an khas Timur Tengah, dan ada musik khas daerah situ juga.

„Wah, spesial amat ini, say“, kata gue terheran-heran. „Bener2 gak disangka lho, kapan elo menghias ini semua?“ Jasmine cuma senyum-senyum aja. „Udah, santai aja…. Sini, dibuka jaketnya yah, kamu ini rapi2 amat….“ Lalu dibawanya jaket gue itu ke lemari. Sepatu gue menyusul. Dan gak lama kemudian kita udah duduk nyantai, gaya lesehan, di bantal2 itu. Jasmine nuang red wine buat gue, udah disiapin juga sebelum kita masuk rupanya. Suasananya tambah intim, sesekali kita ciuman, dan Jasmine mengelus2 lenganku yang kekar.

Gak lama kemudian pintu diketok. Gue baru mau bangun membukanya, tapi dicegah Jasmine. „Kamu duduk aja disitu“, katanya, „Biar aku yang buka“.

Ternyata room service. Wah ekstra spesial juga nih, pikirku.. Menunya campuran antara makanan Asia dan Timur Tengah. Gue nggak tau namanya apa, tapi enak juga.. Ada daging kambing, ayam, nasi, dan banyak lauk pauk di cawan kecil, dan ada roti juga. Penutupnya semacam kue manis.

Sebelum duduk makan, Jasmine mengunci pintu baik2, dan menghilang ke kamar mandi. „Aku ganti dulu ya, biar nggak panas“, katanya dari dalam situ. „Apanya yang panas?“, gue terheran2. „Ah pokoknya elo santai aja“ jawabnya disambung cekikikan.

Wah begitu dia keluar, udah pake kostum lho. Kaya gadis2 di harem jaman dulu kali ya. Rambutnya dihias semacam rantai koin emas, tetap tergerai seksi. Di telinganya dipasang anting2 lingkaran2 agak panjang bergoyang2, di lehernya juga berkalung emas kira2 tiga-empat kalung. Trus Jasmine cuma pake beha dan celana dalem, tapi ini juga spesial. Behanya warna biru muda, dihias mutiara2 palsu dan koin di sepanjang tali behanya, dan disekelilingnya. Tengahnya hampir transparan, hingga kelihatan jelas toket dan putting susunya yang aduhai itu. Behanya seakan nggak muat menampung semua susunya Jasmine. Gue sampe nelen ludah saking terpananya. Jasmine juga memakai semacam rok panjang yang transparan, warna biru muda juga, tipis. Di pinggangnya melingkar ikat pinggang koin yang bersusun2. Samar2 kelihatan kakinya yang mulus dan berlekuk indah. Di pergelangan kaki dan tangannya ada gelang2 emas dan rantai2 emas yang bergemerincing tiap kali dia bergerak. "Nah, mari kita makan sekarang,“ katanya dengan senyum manis.

Gue makan rada-rada nggak konsen gara2 si Jasmine yang seksi itu. Tiap kali tangannya menjulur untuk ngambil lauk, toketnya otomatis keangkat juga, dan bergoyang sedikit. Lagian dari duduknya yang ngeleseh itu keliatan pahanya yang mulus dan bayangan di antara pahanya. Duh… bikin ereksi aja… Dengan anjuran Jasmine, kita saling menyuapi. Kadang dia ngasih aku sepotong daging atau lauk, dan karena kita makan dengan tangan, rasanya benar2 erotis. Gue mencoba menyuapinya juga, dan tiap kali Jarmine menyedot dan menjilati jari2ku. Seksi sekali, dan tiap kali kontolku bereaksi juga, seakan ikut merasakan rasanya disedot2 Jasmine.

„Ini aku masak sendiri lho….“katanya sambil menyuapiku sepotong kentang. „Resepnya rahasia keluarga, dan bumbu2nya……..“ „Emang enak sekali ini, say,“kataku sambil terus makan. „Bumbunya enak sekali lho“ „Iya dong… dan kombinasi rempah2 ini bakal bikin kamu….“ Matanya mengedip nakal,“kuat dan perkasa sepanjang malam….“ „Hah?“kataku kaget. Bakal panjang malam ini….“Eh, tapi gue kira room service?“ „Ah… cuma titip di ovennya aja, biar tetep anget..“jawabnya singkat.

Gue beruntung sekali dapet cewek kaya si Jasmine ini. Tampangnya imut & innocent, tapi dalam urusan ranjang, wah… gak ada duanya. Sepongannya maut, ciumannya bermacam tehnik, dan adegan ranjangnya bikin gue geleng kepala kadang2. Soalnya gue merasa udah tau semua gaya main seks, eh si Jasmine masih bisa bikin gue kagum dengan tehnik2nya. Gak abis2nya surprise dari cewek satu ini.

Abis makan kenyang, kita cuci tangan di cawan air yang ada bunga melati dan irisan jeruk lemonnya. Jasmine ngeringin tanganku dengan handuk kecil. Gue langsung narik dia dan ngajak ciuman. Udah gak tahan lagi sih, kita makan santai2 selama kurang lebih 30 menit-an, dan rasanya lamaaaaaa banget karena terus2an dirangsang dengan suap menyuap dan kostum transparan si Jasmine. Langsung gue lahap bibirnya yang merah alami itu, kukulum2 dan kita sedot menyedot lidah juga. Jasmine udah mendesah2 erotis. Tapi tiba2 dia mendorong dadaku.

„Jangan sekarang, aku masih punya hadiah untuk elo,“ katanya sambil tersenyum. „Ah, apa nggak bisa ditunda?“ gue rada kecewa juga, udah tegang begini kok.. „Ssh…pokoknya dijamin gak nyesel nanti,“ katanya sambil menumpuk beberapa bantal di dekat dinding. Lalu disuruhnya gue nyender disitu. Dia menuang wine lagi di gelasku, naruh sepiring buah2an, anggur, pisang, jeruk, dll. Semua meja dan bantal yang lain digeser ke pinggir, mengosongkan area ruang itu sebisanya. Lalu ia meremangkan lampu di kamar itu. Lalu dia ke kamar mandi lagi, keluar2 udah pake secarik kain transparan, pasangan kostumnya. Kain itu menutup setengah wajahnya, hingga kini matanya yang indah mempesonaku.

Dengan remote control ia memilih lagu dari CD yang sedang dipasang. Dan Jasmine mulai menari. Gak nyangka dapet tontonan tari perut di ulang tahunku ini. Aku melotot menonton tubuhnya yang indah itu bergoyang2 ditengah ruangan, persis di depan mataku.

Musik mulai dengan lembut, mengalun, seperti suara seruling. Nadanya panjang mengalun. Jasmine mulai menggerakkan tangannya, kepalanya bergoyang ke kiri dan kanan, hiasan di telinganya ikut bergoyang. Lalu dadanya turun naik, kedepan belakang, toketnya yang gede itu seperti berputar2 disodor2kan padaku, lalu ia mulai menggerakkan pinggulnya, naik turun, naik turun, seirama dengan musik yang masih asing ditelingaku itu. Gue seperti terhipnotis dengan gerakan2 yang indah merangsang.

Irama musik makin cepat, diiringi tabuhan semacam gendang, menurutku. Gue tidak terlalu tahu alat2 musik daerah Timur Tengah. Tapi yang jelas unik dan enak didengar, apalagi diikuti goyangan2 Jasmine yang makin hot. Pinggulnya kini berputar, pertama pelan, dan makin cepat, naik turun, lalu kaki kanannya maju kedepan, tangan kirinya naik keatas, lalu pinggul kanannya itu terhentak2 untuk tontonanku, lalu yang kiri.

Musik mengalun lebih lembut, dan Jasmine berjalan berputar2 di depanku. Gaya Arabesque seperti penari balet. Gerakannya erotis sekali. Matanya menggodaku. Lalu musik seakan berhenti, tiba2 ia melepas roknya yang tipis itu, dan gue melotot melihat apa yang dipakai Jasmine. Celana dalemnya sepasang sama behanya, cuma bertali tipissssss, dihias koin2 emas juga, dan belakangnya model G-string, yang cuma tali doang, koin emasnya berhenti persis dibelahan pantatnya yang bulat. Penutup depannya mini, transparan juga, dan si Jasmine mencukur semua bulu jembutnya hingga belahan memeknya terlihat menantang dibalik secarik kain transparan itu.

Lalu ia mendekatiku, dan mulai menari lagi persis depanku. Pinggulnya naik turun, menggodaku, karena sekarang kelihatan sekali kewanitaanya yang menantang. Tiap kali ia berputar kelihatan pantatnya yang seksi, bulat bergoyang. Koin2 emas bergermerincing. Ini pasti khusus untukku seorang. Gue belum pernah lihat tari perut, tapi pasti tidak hampir telanjang begini yang nari. Rasanya seperti sultan sehari aja gue ini.

Lalu gerakan Jasmine makin cepat, makin cepat, seluruh tubuhnya bergetar, dan toketnya seakan terlempar-lempar ke kiri kanan, pinggulnya naik turun dengan cepat sekali Ia mulai menekuk lututnya, makin rendah,makin rendah, masih bergoyang cepat, dan dipuncak tarian itu ia jatuh menyembah dihadapanku, jemarinya menyentuh kakiku. Dan musik berhenti.

Gue tak tahan lagi dan langsung menyergap tubuhnya, menindihnya, kita bergumul ditumpukan bantal diiringi alunan musik lembut. Kubantu ia melepas celana dalamnya, biar nggak robek, katanya. Gue melarang Jasmine mencopot behanya. Seksi sih kelihatan putting susunya dibalik kain itu. Kusentuh, kugosok2 pelan dengan jari2ku, sambil terus mencumbu bibirnya. Jasmine mengerang. Tangannya mengerayangi tubuhku, membantuku melepas bajuku satu demi satu sampai telanjang. Kontolku udah kaku dan bergetar menahan rasa. Tapi gue sengaja nggak langsung mengentotnya. Gue pengen denger dia memohon-mohon.

Kuteruskan mengulum bibirnya, tanganku terus merabai puncak2 toketnya yang gede, sesekali meremas pelan, sesekali meremas kuat2 sampai ia merintih dan berontak. Kuelus perutnya yang putih mulus, pinggangnya. Ciumanku turun ke bawah, ke lehernya yang jenjang dihiasi kalung2 emas. Kutiup pelan toketnya, kupijit2 putting susunya. Lalu tanganku yang satunya meraba2 memeknya yang telanjang tanpa bulu itu. Dia sudah basah sekali.

Jari2ku menyentuh klitorisnya yang sudah membengkak terangsang. Jasmine mendesah, mengerang makin kuat. „Sshhh…..“ kataku mencoba menenangkan. Telunjukku kumasukkan ke memeknya, berputar2 disitu, lalu kumasukkan juga jari tengahku. Jasmine mengerang makin hebat, pinggulnya naik memaksa jariku masuk makin dalam. Gue tertawa melihatnya makin meronta menahan rangsangan.

„Ayo dong, Ndi… ayo… uh… ah…..ahhhh…..,“ ceracaunya sambil mengelinjang…. Keringat mulai membasahi tubuhnya, membuatnya mengkilap seksi.. „Hm….?,“kataku santai sambil menggosok2 klitorisnya dan menusuk2kan jari2ku kedalam memeknya. Dia sudah dekat sekali, sebentar lagi orgasmenya pasti sampai. „Oh…oh… Ndi….Ndi… masukkan.. kontolmu.. Ndi….oh…….,“katanya terbata-bata. Saat kutahu dia akan orgasme, dengan bengis kuhentikan rangsangan di memeknya. Dan kembali kucium bibirnya. Ia menjerit kecewa. Kuraba toketnya lagi… „Bilang apa..??“ kataku. „Oh… kau kejam Ndi… kau mau aku memohon..oh…“ katanya terengah engah.. „Ya, sayang… ayo…bilang…“kataku sambil terus memijat toketnya. „Oh…a…yo…entot aku, Ndi… pleaseeeeeeee…. Oh.. aku tak tahan lagi…. Oh…. Memekku serasa terbakar Ndi…“bisiknya. „Sekarang, Ndi… aku mohon… oh… „

Kuselipkan salah satu bantal dibawah pantatnya, membuat posisi memeknya mendongak keatas. Dan dengan satu tusukan keras gue masukin seluruh kontolku dedalam memeknya yang rapat. „Aaaaahhhhhhhhh!!!!!,“jeritnya sambil kakinya melingkari pinggangku. Aku mulai menusuk-nusukkan kontolku, keluar masuk lembut empat kali, lalu kuhentakkan pinggulku sekuat2nya sekali, terus begitu, lembut, keras, lembut, lembut, keras.. keras sampai menyentuh dasar rahimnya. Dan Jasmine mengerang, menjerit, dan menghentak2kan pinggulnya serirama denganku. Kita ******* begini selama 20 menit..

„Ohhhhhhhhhhhh…. Ndi….. ohhhh…nikmatnya…oh… jangan berhenti…“ katanya disela2 permainan kami. „Uh…. Hhh….“ Kucabut kontolku dari memeknya. Kubalikkan dia, sekarang tengkurap. „Sini, sayang… ayo… nungging yang tinggi untukku..“kataku makin bernafsu. Ini posisi favorit gue, Jasmine terlihat pasrah sekali dalam posisi ini. Pantatnya yang bulat menantang, dan kalau dirumahku, kutaruh cermin besar didepannya, biar gue bisa liat ekspresi mukanya dalam keadaan terangsang, saat kusodok2 dari belakang.

Setelah berdogi beberapa saat, kita ganti posisi lagi. Sekarang Jasmine terlentang, dengan bantal2 dibawah punggungnya. Kakinya kuangkat hingga bersandar di pundakku. Tanganku kutumpu dikiri kanan lehernya, dalam posisi ini Jasmine juga tak bisa bergerak, tak kuasa menghindari hantaman2 kontolku di memeknya. Dan karena pahanya merapat, memeknya terasa makin sempit buatku. Ia cuma bisa mengerang2 nikmat.

Dan kemudian gue ngerasa ****** gue makin kenceng, aku hampir sampai. Dan kebiasaanku adalah menghujamkan kontolku sedalam2nya, ini menyebabkan si Jasmine orgasme juga, karena kontolku menghantam dasar rahimnya.

„Aaaaaaaaaahhhhhhhhh… Ndi…… aku sampaiiiiiiiiiiiii, ohhhhhhhhhh……..“jeritnya melengking. Otot2 memeknya mencengkram kontolku. Tubuhnya bergetar kuat. Kukunya terasa mencakar punggungku. Aku makin asyik menghujamkan kontolku kedalam memeknya, lagi dan lagi dan lagi dan lagi… Sampai akhirnya gue nggak kuat lagi, dan… „Ahhhhhhh……….“ teriakku sambil menyemprotkan spermaku ke dalam memeknya. Karena udah terangsang dalam waktu yang lama, maniku kali ini banyak sekali. Kira2 lima semprotan ke dalam memeknya. Rasanya energiku terkuras.

„You animal….“ kata Jasmine sambil tersenyum lembut. Aku terbaring diatasnya. „Happy Birthday, Andie….“ Bisiknya mesra. „Hm… makasih sekali, cintaku,“ kataku sambil mencium bibirnya.

Tak lama kita tertidur di ranjang hotel itu. Hari sudah malam saat kita bangun. Kita lalu mandi busa, ******* lagi sebentar di bak mandi marmer itu. Lalu tidur lagi, di tengah malam kurasakan kontolku naik lagi. Berkat masakan si Jasmine ya…. Gue kerjain lagi si Jasmine sampai terampun-ampun. Habis itu baru aku tidur lelap sampai pagi.

Ulang tahun paling berkesan seumur hidupku.

- End -

Taglines: Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita Hot, Gadis Bugil, Arabian Girl

ads

freezy

0 Responses to "Arabian Night"

Post a Comment