Birahi Panas Tyas

5:52 AM

(0) Comments

Kejadian ini terjadi di bulan Nopember 98 selagi rame2 nya Mahasiswa berdemonstrasi. Disekitar kantorku pun sudah dipenuhi oleh para demonstran baik yang pakai jaket mahasiswa maupun orang yang tidak pakai atribut apapun. Karena sudah jam 18.00 dan punya tanggungan untuk mengangkut pulang ke 4 orang penumpang setiaku yang biasanya menunggu di tikungan jalan yang kulalui, lalu aku nekat keluar dari gedung walaupun banyak teman2ku yang menasehati dan bahkan melarang agar aku jangan meninggalkan gedung dengan kendaraan disituasi yang sedang semrawut ini.

Belum jauh aku meninggalkan gedung lewat jalur lambat yang penuh dipadati oleh para demonstran, kaca jendela kiri Kijangku terasa dipukuli tangan agak keras, tadinya kubiarkan saja karena pikirku pasti tangan2 jahil para demonstran.

Tetapi setelah kulihat sekilas, ternyata yang memukul jendela tadi adalah Tyas yang kelihatan berwajah lusuh dan sangat ketakutan. Segera kubuka pintu depan mobilku dan segera Tyas masuk mobil dan segera mengunci pintunya sambil berkata gemetaran dan penuh ketakutan….. Maaas…. cepat deh…. cari jalan yang sepi dan cepat keluar dari daerah sini….

bisa bisa kita mati ketakutan…. tadi aku lihat tentara dan orang2 sudah bentrok
dan pukul2an serta lempar2an batu. Aku yang sudah takut karena mobilku sudah
dipukul pukul oleh tangan2 jahil para denmonstran, menjadi tambah ngeri
mendengar cerita Tyas ini, tetapi melihat bajunya Tyas yang basah kuyup itu,
masih sempat kutanya Tyaaas…. kenapa bajunya kok basah kuyup ? Dia menjawab
waktu keluar dari gedung kantornya, tersemprot air yang disiramkan oleh mobil
tentara untuk mengusir para demonstran. Aku sudah nggak perduli lagi dengan ke 3
orang penumpang setiaku yang belum kelihatan ketika mobilku sampai ditikungan
tempat biasa mereka menunggu, aku hanya berusaha menjalankan mobil secara pelan2
ditengah kerumunan orang ramai untuk mencari jalan kecil atau jalan yang sepi,
yang penting keluar dari jalan Sudirman dan ketika sampai di jalan keluar dari
Jalan Sudirman, ternyata jalan yang agak kecil inipun tidak kalah ramainya
dengan yang di jalan Sudirman, jalan ini dijadikan tempat lari dan berlindungnya
orang2 yang sedang di kejar2 tentara dan polisi.

Untungnya tidak jauh setelah mobilku berjalan merayap lambat, kulihat ada gedung
yang pintu pagarnya masih terbuka dan penuh dengan mobil2 yang diparkir lebih
dulu untuk berlindung disitu, lalu segera saja kumasukkan dan kuparkir mobilku
dengan susah payah di halaman gedung itu dan kulihat jamku telah menunjukkan jam
19.00 malam.

Kulihat Tyas duduk diam gelisah dan kelihatan masih ketakutan serta badannya
sedikit menggigil mungkin kedinginan karena bajunya yang basah itu dan setelah
mobil kuparkir, tiba2 saja Tyas menangis dan memelukku sambil berkata…
bagaimana.. kita… .maaas…. , kita bisa pulang apa tidak?….. saya…. takuuuut
maas. Aku sendiri masih merasakan ngeri akibat menjalankan kendaraan di tengah
kerumunan para demonstran yang terlihat sedang beringas itu, tetapi kucoba
menenangkannya dengan mengelus-elus pundaknya sambil kukatakan…. tenaaang …..
tenaang… saja tyas…. mudah2an disini kita aman dan nggak ada apa2. Setelah
beberapa saat dan mungkin Tyas sudah sadar dan tiba2 melepas pelukannya..aaah…
ma’af… yaaa… maaaas, habis saya takut sekali, katanya lirih. Aaah….. nggak pa pa
kook … tyaaaas, jawabku sambil ku elus2kan punggung tangan kiriku dipipinya.
Sudah sejam lebih aku parkir di gedung ini, jadi Mas "Blogger" dan penggemar
"Cerita Cerita Seru Panas" bisa membayangkan bagaimana kesalnya kalau lagi menunggu
tapi tidak tahu apa yang sedang ditunggu, dan situasinya bukan semakin sepi
tetapi semakin ramai dan semrawut, petugas keamanan dan orang2 saling kejar2an
dan lempar2an , sehingga membuat Tyas semakin bertambah ketakutan. Maaas…..
gimana… doooong…. apa kita mau disini teruuuus ? Saya sudah kedinginan…. bisa2
masuk angin nanti, kata Tyas sambil mendekapkan kedua tangannya didadanya.
Karena keadaan seperti ini, membuatku jadi kehilangan akal dan kujawab
pertanyaan Tyas sekenanya yaaa…. habis mau gimana lagi… tyaas ? Mau meneruskan
perjalanan…. juga nggak mungkin, lanjutku. Oooh… iyaaa…. Tyaaas, aku baru
ingat…. kira2 100 atau 200 meter dari gedung ini ada Hotel ….. gimana kalau kita
kesana..? Yang penting Tyas bisa telepon kerumah, ngeringkan baju dan kita bisa
istirahat sebentar menunggu sampai suasana menjadi agak sepi, lalu baru kita
pulang ke Bekasi, kataku.

Tyas tidak segera menjawab dan kelihatan sedikit ragu2, Ayoooo… deh..maaaas kita
kesana…. katanya tiba2, benar juga kata mas, saya pingin memberitahu suamiku
kalau saya masih selamat dan nggak apa2. Setelah kukunci pintu mobilku, lalu
kami berjalan keluar gedung dan masuk disela sela orang2 yang hiruk pikuk
dijalanan dan sampai di depan Hotel tanpa hambatan yang berarti. Tetapi ketika
kuajak masuk kelobi Hotel, tiba2 Tyas berhenti dan melihat ke arahku. Aku
mengerti dengan keragu raguannya dan segera kubilang…. Tyas…. jangan takut….
kita bisa pesan 2 kamar. Ayooo..laah, kataku lanjut sambil menggandeng tangannya
masuk kedalam lobi Hotel. Ketika kupesan 2 kamar kepada receptionistnya,
ternyata yang tersisa hanya 1 kamar VIP sedangkan kamar lainnya sudah dipenuhi
oleh orang2 baru masuk seperti Bapak, kata receptionistnya. Kulihat Tyas sambil
akan kuminta pendapatnya, tetapi belum sempat pertanyaanku keluar, Tyas segera
menyahut… Ok… deh mbak….. kita ambil, katanya pada receptionistnya sambil segera
merogoh tas nya mungkin mau mengambil uang atau credit cardnya, tapi tangan Tyas
segera kupegang dan kukatakan…. biar.. saya saja.

Setelah administrasinya kuselesaikan dan diberi kunci dan ditunjukkan arah
kamarnya, kami langsung menuju kamar yang ditunjukkan. Setelah kunci pintu kamar
kubuka, lagi2 Tyas yang kupersilahkan masuk kekamar terlebih dahulu, ternyata
tidak segera masuk dan aku mengetahui ke ragu2an diwajahnya dan sambil kupegang
pundaknya lalu kukatakan… .Tyaaaas,…… jangan takut….. saya tidak akan
mengganggumu dan mendengar kataku ini, segera Tyas memelukku serta mencium
pipiku sambil berkata …. terima kasih… maaas, saya nggak takut… kok.

Setelah masuk kekamar yang cukup luas dengan tempat tidur nomor 1, segera Tyas
menuju tempat telepon dan memencet angka2nya. Maaaas, ini Tyas…. Tyas sedang
ditempat kost2an temanku dekat kantor, katanya sambil melihat kearahku dan
meletakkan jari telunjuknya di bibirnya dan terus menceritakan aksi2 demonstran
tadi.

Mungkin aku akan nginap disini sampai semuanya aman dan mudah2an besok pagi aku
bisa pulang, lanjut Tyas di telepon. Setelah Tyas selesai dengan phonenya lalu
dia mengacungkan gagang phone padaku maas… , apa Mas nggak phone ke istri dulu
agar supaya dia nggak was-was ? kata Tyas. Benar juga kata Tyas dalam pikiranku,
lalu kuambil gagang telepon dari tangan Tyas dan kuputar nomor rumahku. Maaa…. ,
ini aku…. aku nggak bisa pulang malam ini dan sekarang aku ada di rumah salah
satu teman kantor yang rumahnya nggak jauh dari kantor. Mudah2 an demo nya
selesai malam ini dan besok pagi bisa pulang, kataku sambil meletakkan gagang
telepon ditempatnya.

Kami saling bertatapan dan hampir secara serentak kami berSeru Panas dan saling
menunjuk naaaah…… belajar bohong yaaaaa ? sambil terus ketawa bersama.
Maaas… aku mau mandi duluan yaaa ? kata Tyas sambil berjalan kearah kamar mandi,
tetapi kemudian berhenti dan berbalik menengok kearahku Maaas… , kalau saya
mandi nanti… tolong panggilkan room boy nya dong, agar mereka mencuci baju kita
super kilat dan bisa kita pakai lagi segera. Iyaaa….. tuan putri….. perintah
dilaksanakan… , kataku bergurau. Tyas segera masuk kekamar mandi tetapi selang
beberapa saat dia keluar lagi hanya mengenakan lilitan handuk dibadannya sambil
meletakkan bajunya yang telah digulung gulung di lantai serta sambil
mengacungkan sebuah handuk lain kepadaku Niiih…. maaas… , ganti deh bajunya
dengan handuk ini…. sehingga room boy nya bisa mencuci baju2 kita. Setelah
selesai berkata dan tanpa menunggu jawabanku, Tyas segera masuk lagi ke kamar
mandi serta menguncinya dari dalam.

Aku jadi sangat terperangah melihat keberanian Tyas tadi yang hanya mengenakan lilitan handuk dan melihat belahan dadanya sedikit tersembul dibalik handuk yang menutup dadanya serta pahanya yang kecil, putih serta mulus itu, tidak terasa membuat nafsuku naik dan penisku menjadi berdiri tegang. Setelah kubuka baju dan celanaku serta kubungkus badanku dengan handuk yang diberikan Tyas, segera kuisi formulir laundry, tetapi karena aku tidak tahu pakaian Tyas apa saja yang akan dicuci, terpaksa pakaian Tyas yang digulungnya tadi segera kubuka satu2. Ternyata selain baju dan roknya, didalam gulungan itu terdapat Bh kira2 ukuran 32 dan Celana dalam merah muda yang sangat tipis. Melihat Bh dan Cd ini, perasaanku menjadi terangsang, dan sebelum kumasukkan kedalam laundry bag, kuciumi Cdnya beberapa saat dan aduuuh…. hai… tercium bau aroma memek yang khas. Setelah itu baru kupanggil room boy untuk mengambil pakaian2 kotor dengan pesan agar diantar kembali secepat mungkin
dan paling lambat pagi2 sekali.

Kudengar kunci kamar mandi dibuka dan muncul Tyas dengan rambut yang masih basah
dan wajah yang terlihat segar dan bertambah manis serta badannya terlilit dengan
handuknya dan kembali membuat mataku sedikit terbelalak melihatnya karena
belahan teteknya serta pahanya yang putih mulus itu. Maaas…. ngelihatnya kok
begitu amat sih ?..… iiihh… .menakutkan sekali..? kata Tyas sambil berjalan
menuju kaca. Maaas… sekarang gantian deh maas..yang mandi… dan nanti kupesankan
makan… , mau makan apa Maaas… , lanjutnya lagi. Makan… apa… yaaa ? sahutku
seakan bertanya, makan… Tyas..aja deh, lanjutku sambil berjalan menuju kamar
mandi. Haaaaah…. makan apa maaas, sahut Tyas sambil membelalakkan matanya dan
mencubit tanganku ketika aku melewatinya. Aaaah……. ma’af Tyas….. .aku salah
ngomong… .maksudku makan seperti yang Tyas pesan saja, jawabku sambil ketawa dan
terus masuk kamar mandi.

Setelah selesai mandi, kulihat makanan sudah siap dimeja sofa yang ada dikamar
dan kami terus makan dengan hanya memakai lilitan handuk di badan. Sesekali
kulirik paha Tyas yang selama makan di tumpangkan kepaha satunya, dengan harapan
siapa tahu Tyas merubah posisi duduknya dan melihat bagian dalam paha yang aku
yakin nggak pakai Cd karena semua pakaian nya sedang di cuci, tapi harapanku
nggak pernah terwujud sampai makan selesai. Setelah selesai makan, kami teruskan
dengan ngobrol soal keluarga masing2 dan soal pekerjaan sambil melihat acara TV
sampai akhirnya kulihat Tyas menguap dan kulihat jam sedah menunjukkan jam 21.45
malam dan segera saja kukatakan… Tyas…. sudah malam nih…. kita tidur saja… biar
kita bisa bangun pagi2 dan terus pulang, kataku sambil kuambil 1 bantal diantara
3 bantal yang ada di tempat tidur dan menarik Bed-cover serta kutaruh di Sofa.
Melihat kelakuanku itu, segera saja Tyas berkata Maas… ,lho…. kok tidur disitu….
? Nggak apa apa deh..Tyas….. sudah biasa dan….. lagi pula biar Tyas bisa tidur
nyenyak, sahutku sambil terus tiduran di sofa dan menarik bed-cover untuk
menyelimuti badanku. Maas…. , tidur disini saja, kan tempat tidurnya cukup
lebar, kata Tyas sambil tiduran dan masuk kedalam selimut serta meletakkan salah
satu bantal di tengah2 tempat tidur. Sudahlah…. Tyas…. nggak apa apa kok….
tidurlah, kataku sambil terus memejamkan mata. Tetapi Tyas masih tetap saja
memaksa agar aku tidur ditempat tidur, Maaas…. ayoooo..dooong..tidur disini…
saya kan jadi nggak enak… , kata Tyas lagi. Karena dipaksa terus, lalu aku
pindah ke tempat tidur dan kumasukkan badanku kedalam selimut sambil kulepas
lilitan handuk yang ada di tubuhku dan kudengar suara Tyas agak mengguman….
tapi… jangan..nakal yaaa… maaaas sambil memiringkan badannya sehingga tidurnya
membelakangiku.

Dengan posisi tidur terlentang dan tangan kananku kutaruh diatas bantal yang
diletakkan oleh Tyas ditengah kasur sebagai pemisah, kupejamkan mataku agar
cepat bisa tertidur. Beberapa lama kemudian ketika aku sudah hampir lelap, tiba2
telapak tangan kananku terasa ditimpa oleh tangan sehingga tidurku agak terjaga
dan setelah kubuka mataku sedikit, kulihat Tyas telah tidur terlentang juga.
Karena sudah ngantuk sekali, kubiarkan saja telapak tangan kirinya bertumpu di
telapak tangan kananku, karena kupikir Tyas pun sudah tidur lelap. Tetapi
beberapa saat kemudian, kurasakan jari-jari tangan Tyas seperti mengelus telapak
tanganku. Pertama-tama kubiarkan saja dan tidak kuacuhkan karena kuanggap kalau
orang tidur kadang2 tangannya suka bergerak gerak, tetapi setelah kucermati
beberapa saat, ternyata jari-jari tangan Tyas sekarang sudah memijat jari
tanganku walaupun tidak terlalu keras.

Merasakan pijatan2 halus di tanganku itu membuat kantukku mendadak menjadi hilang, tetapi aku masih tetap pura2 sudah tertidur dan membiarkan jari-jari Tyas meremasi jari2 tanganku. Makin lama remasan jari Tyas semakin agak keras, sehingga aku menjadi semakin yakin kalau Tyas masih belum tidur. Sambil tetap kupejamkan mataku dan kutarik nafas sedikit agak panjang , aku menggerakkan dan memiringkan posisi tidurku menghadap kearah Tyas dan tangan kiriku kujatuhkan di atas bantal pemisah tapi telapak tanganku kujatuhkan pelan tepat diatas tetek Tyas yang tertutup selimut. Kuatur nafasku seolah aku sudah tidur nyenyak, tapi aku nggak bisa mengontrol penisku yang mulai berdiri. Tyas kelihatannya mendiamkan saja dengan posisi tanganku ini dan tidak berusaha untuk menggeser telapak tanganku yang berada di atas teteknya dan tetap saja melanjutkan remasan remasan jari nya ke jari2ku karena mungkin masih menyangka kalau aku sudah nyenyak tidur. Sesekali kutekankan telapak tangan kiriku pelan2 keteteknya, tetapi masih saja Tyas tidak bereaksi sehingga membuatku bertambah berani dan tekanan jari tanganku kuubah menjadi remasan
remasan yang halus pada teteknya.

Maaaaaaaaas…. ,tiba2 terdengar suara lemah Tyas seraya memelukku setelah
membuang bantal pemisah dilantai dan ini tidak kusia siakan dan lalu kupeluk
juga tubuh Tyas serta kucium bibirnya. Tyas begitu menggebu gebu melumat bibirku
disertai menjulurkan lidahnya kedalam mulutku dan nafasnya terdengar cepat serta
tidak beraturan. Setelah beberapa saat kami berciuman, tiba2 Tyas menggerakkan
dan menggeser badannya sehingga sekarang sudah berada di atas badanku. Tyas
semakin ganas saja dalam berciuman dan kadang2 diselingi dengan menciumi seluruh
wajahku dan kugunakan kesempatan yang ada untuk melepas selimut dan handuk yang
menutupi tubuhku dan Tyas, sehingga tidak ada lagi bagian badan yang tertutup.
Dengan posisi Tyas masih tetap diatas badanku, kupeluk badan Tyas yang kecil
mungil itu rapat2 sambil kuciumi seluruh wajahnya, demikian juga Tyas melakukan
ciuman yang sama sambil sesekali kudengar suaranya aaaaaaaahhhh…. aaaaahhh…..
ooooooh…. mmaaaasss. Tyas sekarang menciumi leherku dan terus turun kearah
dadaku dan karena terasa geli dan enak tak terasa aku berdesis … ssssssshhhh….
Ssssssshh… Tyaaaass…. ssssssshhhh.

Tyas meneruskan ciumannya sambil terus menuruni badanku dan ketika sampai disekitar pusarku, dia menciuminya dengan penuh semangat dan disertai menjilatinya sehingga terasa enak sekali dan penisku kian menegang dibawah badan Tyas….. ssssssshhh….. tyaaaaas….. adduuuuuhh….
aaaaaaahh dan Tyas secara perlahan lahan terus turun dan ketika sampai disekitar
penisku, Tyas tidak segera memasukkan penisku kedalam mulutnya, tetapi menciumi
dan menghisap daerah sekelilingnya termasuk biji penisku sehingga rasa enaknya
terasa sampai keubun ubun sssssssshhh…… aaaaaaahhhhhh… aaaaahhhh… Tyaaaaaas…
ooooooohhhh sambil tangan kanannya memegang batang penisku dan mengocoknya pelan
pelan. Tiba2… hhuuuubbb…. penisku hilang masuk dimulutnya dan karena kaget dan
keenakan tak terasa aku jadi sedikit berteriak …. aaaaaaaaaaaaaaahh……. Tyas
segera menaik turunkan mulutnya pelan2 dan sesekali kurasakan penisku seperti
terhisap isap karena sedotan kuat mulutnya, aaaduuuuuhh…. Tyaaas…..
enaaaaaaakkk… aaaaaahhhh.

Ayoooo…. doooong… Tyaaaas….. siniiiii….. maaass… juga kepingin, kataku sambil
sedikit bangun dari tidurku dan menarik badan nya. Tyas sepertinya mengerti
kemauanku dan badannya diputar mengikuti tarikan tanganku tanpa melepas penisku
yang masih menyumpal mulutnya. Posisi nya sekarang 69 dan Tyas berada diatas
badanku dan tercium bau aroma memek yang khas itu. Memek Tyas hanya ditumbuhi
bulu2 hitam yang sangat tipis, sehingga bentuk memeknya yang belahannya masih
rapat itu terlihat jelas. Pelan2 kujilati bibir memek Tyas yang sudah sangat
basah itu dan badan Tyas menggelinjang setiap kali bibir memeknya kuhisap isap
dan dari mulutnya yang masih tersumpal penisku itu terdengar suara hhhhhmmm…..
hhhhhmmm…. hhhhmmmm. Dengan kedua tanganku, segera kubuka belahan memek Tyas
pelan2 dan terlihat bagian dalamnya yang berwarna merah muda dan segera
kujulurkan lidahku serta kujilati dan kuhisap hisap seluruh bagian dalam memek
Tyas dan kembali kudengar erangan tyas yang sekarang sudah melepas penisku dari
mulutnya aaaaaahhh …. ooooohhh….. ssssssshhhh….. maaaaaas…. oooohhh, sambil
berusaha menggerak gerakkan pantatnya naik turun sehingga sepertinya mulut dan
hidungku masuk semuanya kedalam memeknya serta wajahku terasa basah semuanya
oleh cairan yang keluar dari memek Tyas..oooooooooh….. maaaaas….. aaaaaaaahhh….
sssssshhh.. ooohh … teruuuuuss… maaaaaaas…. aaaaaaah.

Apalagi ketika clit nya kuhisap, gerakan pantat tyas yang naik turun itu terasa semakin dipercepat dan kembali terdengar erangannya yang cukup keras oooooh… maaaaaas…. teeruuuuuuss….. aaaaaaaahhh dan ketika beberapa kali clit nya kuhisap hisap dan sesekali lidahku kujulurkan masuk kedalam lubang vaginanya, geraka pantat Tyas semakin menggila dan cepat, semakin cepat dan… teriaknya….. aaaaaaaaaaaahhhhh… maaaaaaaaaaasss….. aaadduuuuhhh… akuuuuuuuuu …… aaaaaaaahhhh…. keluaaaaaaaaaaaaaaaarrrrr, sambil menekan pantat nya kuat sekali kewajahku sehingga aku sedikit kelabakan karena sulit bernafas dan terdengar nafas Tyas terengah engah. Setelah tekanan pantatnya di mukaku terasa berkurang, perlahan lahan kuputar badanku kesamping sehingga Tyas tergeletak di tempat tidur tapi masih dalam posisi 69. Dengan
masih terengah engah kudengar Tyas memanggil pelan Maaaaaass……. kesini…..
maaaaas… dan segera saja aku bangun serta berputar posisi lalu kupeluk badannya
serta kucium bibirnya dengan mulutku yang masih basah oleh cairan memek nya.

Maaaas….. ,katanya didekat telingaku dan nafas nya sudah mulai agak teratur,
Apaa… sayaaaaaang…. sahutku sambil kucium pipinya. Maaaas….. sejak kawin aku
belum pernah mencapai orgasme seperti ini…. , entah kenapa…. atau mungkin karena
suamiku selalu langsung langsung saja dan kadang2 aku merasa sakit. Terima
kasih…. sayaaaang…. dan sekarang…… boleh akuuuuuuuu…… , sahutku dan sebelum aku
menyelesaikan kata2ku, kurasakan Tyas merenggangkan kedua kakinya, jadi aku
tidak meneruskan kata2ku itu. Aku mengambil ancang2 dengan memegang penisku
serta ku paskan pada belahan memeknya yang kurasakan sedikit terbuka, lalu
kulepaskan pegangan tanganku setelah kurasakan kepala penisku berada di belahan
memek Tyas.

Maaaaaaas… … jangan kasar kasar…. yaaaaaaa…. aku takut sakit…. ,kata
Tyas sambil memelukkan kedua tangannya dipunggungku. Tidaaaak, sayaaaaang….. aku
akan masukkan sepelan mungkin dan kalau Tyas sakit tolong beritahu aku, sahutku
dan segera kukulum bibir tyas sambil kujulurkan lidahku kedalam mulut nya dan
Tyas menghisap dan mempermainkan lidahku, sementara itu aku mulai menekan
pantatku pelan2 sehinggga kepala penisku mulai memasuki lubang vaginanya dan….
bleeeeeeeeeeeeeesss…… penisku sudah masuk setengahnya kedalam vaginanya dan Tyas
berteriak pelan… aaaaaaaaaaaaaahh…… maaaaaass…… sambil kedua tangannya
mencengkeram kuat di punggungku. Karena teriakan Tyas ini, kutahan tusukan
penisku untuk masih lebih dalam dan kutanya … ..sakit…. Yaaaang ? Tyas hanya
menggelengkan kepalanya sedikit dan Maaaas… …. nakaaaaaal… yaaaa, sambil
mencubit punggungku dan kedua kakinya segera diangkat lalu dilingkarkan ke
punggungku, sehingga akibat jepitan kakinya ini menjadikan penisku sekarang
masuk seluruhnya kedalam vagina Tyas. Aku belum menggerakkan penisku karena Tyas
sepertinya sedang mempermainkan otot2 vaginanya sehingga penisku terasa seperti
terhisap hisap dengan agak kuat. Yaaaaaaang….. teruuuuus….. yaaaang…. enaaakkk…
sekaliiii… yaaaaang…. kukatakan kenikmatanku didekat telinganya, dan karena
keenakan ini dengan tanpa sadar aku mulai menggerakkan penisku naik turun secara
pelan dan teratur, sedangkan Tyas secara perlahan mulai memutar mutar
pinggulnya. Setiap kali penisku kutekan masuk kedalam vaginanya, kudengar suara
nya aaaaaaaaaaaahhh…… sssssssshhhh….. maaass… aaaaaaaccrrhhhh, mungkin karena
penisku menyentuh bagian vaginanya yang paling dalam. Karena seringnya mendengar
suara ini, aku semakin terangsang dan gerakan penisku keluar masuk memek tyas
semakin cepat dan suara aaaaaaaahhh…… sssssssshhh….. aaaahh….. ooooohh… ..
aaaaaaaahh …. dari Tyas semakin sering dan keras terdengar serta gerakan
pinggulnya semakin cepat sehingga penisku terasa semakin enak dan sulit untuk
kukatakan melalui tulisan ini. Aku semakin mempercepat gerakan penisku keluar
masuk vaginanya dan tiba2 Tyas melepaskan jepitan kakinya di pinggangku dan
mengangkatnya lebar2, dan posisi ini mempermudah gerakan penisku keluar masuk
vaginanya dan terasa penisku dapat masuk lebih dalam lagi. Tidak lama kemudian
kurasakan pelukan Tyas semakin kencang dipunggungku dan aaaaaaahhh…….
ooooooohh…. ayoo…. maaaaaaaass…. aaaaaaahh …. akuuuuuuu…. mauuuuuuu……
keluaaaaaar…. aaaaaaahh… maaaaas. Tungguuuuuu….. yaaaaang…….

aaaaaaahhh..kitaaaaaa… .samaaaaa… samaaaa, sahut ku sambil mempercepat lagi
gerakan penisku. Adduuuuuuhh… maaaaas….. akuuuuu… nggaaaaak…… … tahaaaaaaaaan…
maaaaaas… ayooooooo….. se…. karaaaaaang… .aaaaaaaaaaaarrrrrccccchhh, sambil
kembali kedua kakinya dilingkarkan dan dijepitkan di punggungku kuat2.
Yaaaaaaang…… … akuuuuu… jugaaaaaaaaaaa…. dan terasa …… creeeeeeet….. creeeeeet….
crrreeettt..air maniku keluar dari penisku dan tumpah didalam vagina Tyas sambil
kutekan kuat2 penisku ke memeknya.
Dengan nafas yang terengah engah dan badannya penuh dengan keringat, didorongnya
aku dari atas badannya sehingga aku jatuh terkapar disampingnya tetapi penisku
masih tetap ada didalam lubang vaginanya.

- End -

Taglines: Cerita Panas, Birahi Panas, Sexy Tyas

ads

freezy

0 Responses to "Birahi Panas Tyas"

Post a Comment