Jangan Bugil di Depan Kamera

10:13 PM

(0) Comments

Sulit dipercaya. Saat ini lebih dari 500 video porno buatan Indonesia beredar di masyarakat. Baik dalam bentuk VCD, DVD, maupun yang beredar dari ponsel ke ponsel.

Lebih mengejutkan lagi, dari 500 lebih video porno yang beredar itu, 90% di antaranya dibuat oleh mahasiswa dan pelajar. Sungguh mencengangkan karena setiap hari minimal dua film porno baru buatan mahasiswa dan pelajar yang beredar di tengah masyarakat melalui internet dan handphone.

Hasil penelitian Sony Ady Setyawan, seorang mahasiswa asal Yogyakarta ini, semakin meyakinkan kita tentang banyaknya video porno buatan mahasiswa dan pelajar yang bergentayangan di internet dan dari handphone ke handphone.

Sebagian besar video porno itu dibuat secara amatiran, berdasarkan keisengan belaka. Kebanyakan dari video porno itu dibuat melalui kamera yang ada di ponsel. Sedangkan gambar yang direkam mulai dari adegan telanjang sampai hubungan seks.

Tapi yang membuat kekhawatiran semakin menjadi-jadi adalah sudah mulai ditemukan video yang menggambarkan adegan perkosaan yang direkam. “Adegan itu sengaja direkam untuk kemudian disebarkan,” ujar Sony. Sampai saat ini belum diketahui motif dari pembuatan film semacam itu. “Tapi, kita harus waspada. Sebab dengan beredarnya film-film kekerasan seks seperti itu, kita sudah masuk pada gelombang keempat dalam dunia pornografi, seperti yang terjadi di jepang,” Sony menegaskan.

Sony tidak berlebihan. Teknologi video saat ini sudah melekat hampir di semua ponsel. Dengan perangkat tersebut, anak-anak muda banyak yang tergoda untuk merekam adegan mesra mereka yang sangat pribadi, bahkan adegan hubungan seks, melalui ponsel tersebut.

Perkara yang bermula dari keisengan itu juga diakui Rini dan Ita, dua remaja pelajar di sebuah SMU di Jawa Tengah, yang pernah merekam adegan mandi mereka di ponsel.

Screenshot Jangan Bugil di Depan Kamera 3GP

“Waktu itu setelah pesta ulang tahun teman, kami berlima mandi bersama. Ada teman yang kemudian iseng merekam adegan itu di ponselnya,” tutur Rini. Setelah itu gambar tersebut ditransfer ke ponsel masing. Tapi mereka menjadi panik ketika pacar salah seorang dari mereka sempat melihat rekaman tersebut.

Akhirnya kelima gadis remaja itu sepakat untuk menghapus rekaman tersebut sebelum menyebar ke mana-mana dan menjadi pembicaraan di antara teman-teman mereka. Apalagi ketika ponsel Rini hilang. “Ada yang bilang rekaman yang sudah dihapus itu bisa ditampilkan lagi. Sekarang saya dan teman-teman jadi cemas,” ujar Rini ketika tampil di Kick Andy.

Pengalaman buruk dalam urusan seperti ini juga dialami Femmy Permatasari. Bersama Rachel Maryam, Sarah Azhari, dan sejumlah artis gambar mereka ketika sedang ganti baju beredar di masyarakat dalam bentuk VCD dan juga melalui internet.

Gambar yang direkam ketika mereka sedang casting untuk sebuah produk iklan itu berakhir dengan diseretnya pemilik studio, Budi Han, ke meja hijau. “Tapi, saya telanjur shock. Pertama kali lihat rekaman itu saya muntah-muntah dan akhirnya harus dirawat di rumah sakit,” ungkap Femmy kepada Andy Noya.

Akibat film iu, bukan cuma Femmy yang terpaksa mengundurkan diri dari pergaulan, sang suami juga merasa tertekan dan menarik diri dari pergaulan. Mereka juga berupaya agar rekaman tersebut tidak dilihat oleh sang anak yang masih kecil. “Tapi VCD-nya saya simpan. Suatu hari nanti, ketika dia sudah siap, saya akan jelaskan soal ini,” kata Femmy.

Topik ini kembali ingin mengingatkan kita semua, terutama para remaja, untuk berhati-hati tampil di depan kamera. Bermula dari iseng, masa depan bisa hancur berantakan. Karena itu, gerakan kampanye yang saat ini sedang digalang oleh sejumlah aktivivis perlu mendapat dukungan. Mereka bersama-sama menggerakan kesadaran untuk “Jangan Bugil di Depan Kamera!”

- End -

Taglines: Cerita Panas, Cerita Dewasa, Cerita Seru, 17 Tahun

ads

freezy

0 Responses to "Jangan Bugil di Depan Kamera"

Post a Comment