Kakak Kelas dan Adik Kelas

2:39 AM

(1) Comments

Kejadian ini udah lama juga, tapi aku masih sering mengingatnya. Waktu itu aku masih kelas 2 SMP. Bisa dikatakan aku termasuk murid andalan disekolahku, ini terbukti dengan dipercayanya aku sebagai Ketua Panitia Ulang Tahun sekolahku. Memang sudah menjadi tradisi sekolahku setiap ulang tahun merayakannya dengan melaksanakan berbagai lomba baik itu di bidang olah raga, seni dan lainnya.

Sebagai anak yang baru beranjak remaja, aku pun mulai menyukai lawan jenis dan di sekolah ada 3 orang cewek yang paling kusukai dan mungkin aku naksir ama mereka. Yang pertama Poppy, temen sekelasku, orangnya cantik, tinggi dan lembut. Yang kedua Putri, dia adek kelasku, badannya bongsor sehingga walaupun masih kelas 1 SMP tetapi dada nya udah menonjol lebih gede dibandingkan dengan temen-temenku waktu itu. Dan yang ketiga adalah Ratna, sebenarnya aku ragu juga untuk naksir ama Ratna soalnya dia kakak kelasku, tapi aku suka banget liat bodynya yang sexy, pantatnya bulat dan penuh, dadanya juga gede, rambutnya yang panjang tergerai menambah sexy penampilannya. Wajah nya bulat telur dan manis banget kalo senyum.

Ratna dan Poppy pinter banget menari, setiap ada perlombaan menari, pasti mereka berdua yang diutus mewakili sekolahku. Karena keahliannya itu, maka Ratna dan Poppy kuminta membantuku mengkoordinir pelaksanaan kegiatan di bidang seni dan pertunjukan. Sementara Putri suka banget olahraga, makanya badannya bongsor gitu, Putri aku minta membantuku mengurusi kegiatan perlombaan di bidang olah raga. Tentunya dibantu juga oleh temen-temen panitia lainnya.

Putri ternyata ikut juga memperkuat tim basket putri di kelasnya. Ketika kelas Putri mendapat giliran bertanding, aku pun dengan semangat menontonnya, ya selain untuk memantau jalannya pertandingan, aku juga pengen liat Putri maen basket. Ketika pemain sudah mulai memasuki lapangan. Aku seneng banget ngeliat Putri dan tim basketnya mengenakan seragam kaos ketat dan stocking selutut. Wah body Putri bagus juga…. Kaos yang dikenakannya menempel ketat di badannya sehingga payudaranya yang lumayan gede semakin jelas memperlihatkan bentuknya, apalagi stocking hitamnya juga ketat banget membuat pantatnya juga keliatan bentuk aslinya, kencang dan bulat. Ketika permainan berlangsung, Putri berlari kesana-kemari sehingga dadanya bergoyang-goyang membuat mataku tak berkedip ngeliatnya. Sekali-sekali Putri juga melirik kearahku, dan memberikan senyum manisnya. Aku tambah semangat menonton pertandingan itu.

Ketika babak pertama hampir selesai, kulihat Putri dengan semangat menggiring bola ke arah lawan, dan ketika akan melompat untuk mamasukkan bola ke keranjang lawan, secara tidak sengaja lawan mainnya mendorong hingga Putri jatuh terjerembab. Suasana agak sedikit gaduh karena keliatannya Putri terluka. Semua penonton segera bergerombol ingin melihat apa yang terjadi, aku segera berlari kecil menghampiri Putri.

“Minggir…. Tolong minggir….”, aku berusaha menyusup kerumunan. Karena mereka tau aku penanggung jawab kegiatan ini, maka mereka segera minggir memberi jalan. Aku segera berjongkok disamping Putri yang sedang terduduk sambil meringis kesakitan.

“Kamu nggak apa-apa Put….?”, tanya ku sambil memegang lututnya yang terlihat lecet dan mengeluarkan darah.

“Keliatannya Putri keseleo nih Mas…..uhhh….”, sahut Putri sambil meringis.

“Ya udah…. Sini Mas gendong, kita ke PKS (Pelayanan Kesehatan Sekolah)

Aku segera menggendong Putri menuju ruang PKS diikuti beberapa temen Putri. Sampai di ruang PKS, Putri kurebahkan ke ranjang periksa, dan Irma, panitia bidang kesehatan yang sedang piket saat itu segera membersihkan dan mengobati luka di lutut Putri.

“Ndre… kamu tolong jagain Putri bentar ya, aku mau nonton basket dulu, tadi keliatannya lagi seru. Kalo ada apa-apa kamu panggil aku ya ! Aku udah bilang tadi ama Putri kalo dia rebahan dulu aja”, setelah selesai merawat lutut Putri, Irma pergi nonton pertandingan basket lagi.

“Ok deh….”, aku segera masuk ruang periksa dan Putri sedang berbaring, ketika melihatku dia senyum manis banget.

“Ma kasih ya Mas Andre….udah nolongin Putri..”, katanya manja.

“Gimana ? Udah baikkan sekarang ?”, aku mengamati luka dilututnya. Stocking selututnya digulung hingga pahanya keliatan sebagian. Putih dan mulus.

“Kalo lukanya keliatannya udah lumayan baikan, tapi keseleonya gimana nih ? Mas cari tukang urut ya ?”, tanyaku

“Nggak usah Mas…. Nggak gitu sakit koq…. Mungkin dipijitin dikit bisa sembuh…….Mas Andre bisa mijit khan ?”, Putri memegang tanganku dan ditempelkannya ke paha, “Nah disini yang agak nyeri Mas”, ucapnya.

Wow….halus banget kulit pahanya….. aku segera memijit-mijit ringan dan sesekali mengelus paha mulus itu, kadang-kadang malah jariku mencari kesempatan menyusup ke dalam stocking nya. Putri menggelinjang kegelian ketika tanganku membelai lembut paha bagian dalamnya….

"Geli ah Mas….!," Putri mencubit tanganku, "Mas Andre….Putri mau pulang sekarang….anterin ya.?", pintanya manja sambil menggenggam erat tanganku yang dipahanya.

"Ok deh….emang mending kamu pulang aja biar istirahatnya enak!". Aku dan Putri segera meninggalkan ruang PKS. Dengan menaiki motor aku dan Putri berboncengan menuju rumahnya. Lima menit sebelum sampai kerumah Putri, tiba-tiba Putri merangkulkan tangannya ke pinggangku. Mulutnya mendekat di telingaku.

"Makasih ya Mas….. udah nolongin dan nganterin Putri pulang", bisiknya

"Nggak papa…. Mas suka koq", ujarku sambil menikmati sentuhan payudaranya di punggungku. Kenyal dan hangat. Sampai dirumahnya, Putri menarik tanganku untuk masuk kerumahnya, lalu menuju ruang keluarga dan menghidupkan tv.

"Mas Andre nonton tv dulu ya…… Putri mau mandi dulu, nggak enak keringatan abis maen basket tadi", Putri berlari dengan lincah menuju ke kamarnya. Aku memperhatikan situasi rumahnya, keliatannya semuanya lagi pada pergi, kecuali pembantunya yang sedang asyik masak didapur.

Aku sedang asyik menonton tv ketika tiba-tiba Putri muncul didepanku sambil membawa dua gelas jus jeruk, lalu ditaruh di meja. Aku sempat terpana, Putri keliahatan tambah cantik dan segar.Dia kaos ketat yang lehernya rendah banget dan pendek sehingga belahan payudara dan perutnya keliatan. Wah sexy banget deh…..

"Minum Mas….", Dia duduk di sebelahku. Tercium harum badannya. Bau sabun mandi. Ahhh segar sekali….. Kami ngobrol sambil nonton tv.

“Put….kamu koq udah nggak pincang lagi, hayoooo kamu nggak keseleo kan ?”, tanya ku tiba-tiba sadar Putri dari tadi nggak keliatan pincang.

“Hihihi…..emang sengaja koq…Putri pengen ngerjain Mas sekalian pengen digendong,” sahutnya dengan manja

“MMmmmm …. Nakal ya….ngerjain Mas, rasain nih….hukumannya….”, tangan ku secara cepat menuju perutnya yang terbuka mengkitik-kitik sehingga membuat Putri kegelian sambil berusaha menghindar. Aku terus menyerangnya dengan gelitikanku hingga secara tidak sengaja tanganku menyentuh payudaranya. Kami terdiam sejenak…

Tiba-tiba di TV terlihat ada adegan orang ciuman.

"Mas, apa enaknya sih ciuman seperti itu?" katanya sambil matanya tetap menatap tv.

"Nggak tau ya….. Mas belum pernah.. ya.. mana tahu rasanya.."

"Kayaknya sih enak, liat tuh sampe merem-merem segala," sambungku.

Putri kembali mengarahkan pandangannya ke tv, nafasnya agak memburu melihat adegan cium itu. Aku melirik ke bukit kembarnya dan menatap wajahnya lalu menghisap nafas dalam-dalam mencium harum rambut dan tubuhnya. Sepertinya aku jatuh cinta sama Putri. Tapi terus terang aku belum berani untuk mengucapkannya.

Tiba-tiba Putri berbisik, "Mass.. ajarin Putri ciuman doongg.."

"Supaya Putri tau apa sih enaknya ciuman." sambungnya.

Aku seperti mendapat durian runtuh. Disaat penisku keras, nafsuku naik juga melihat adegan TV, ada yang minta dicium, Bidadari lagi.

"Mumpung sepi nggak ada orang nihh." batinku.

Dengan lembut kurangkul dia, lalu kupangku menghadapku. Putri pasrah saja terhadap apa yang kulakukan. Kucium pipinya, matanya, hidungnya. Dia menikmati semua yang kuberikan. "Aaahh.. Maassss.. hmmm.."Kuelus-elus punggungnya, kupegang pantatnya sambil kuremas. Bulat dan keras. Tangannya pun mulai memeluk pinggangku. Kukecup bibirnya. Mula-mula dia tidak membuka mulutnya. Hanya bibir kami yang bertautan. Kumainkan lidahku, akhirnya mulutnya terbuka. Lidahku dan lidahnya saling membelit. Terasa manis ludahnya. "Ternyata Putri cepat sekali belajar. Dia mengikuti apa yang aku lakukan." Kucoba meraba dadanya. Dia tersentak. Tapi ciumanku tak kulepaskan. Tangannya memegang tanganku tapi tidak ditarik hanya dipegang saja. Pertanda dia pun menikmatinya. Kuremas dari luar perlahan bukit kembarnya. "Aaahh.. Maasss.." desahnya.

Kuberdirikan dia, kulepaskan kaos ketat dan roknya. Dia kaget sekali. Langsung kucium lagi bibirnya, tangan kiriku meremas-remas pantatnya, tangan kananku meremas payudaranya. Lama-kelamaan dia sudah tak peduli lagi dengan tubuhnya yang setengah telanjang. Hanya dengan bra dan CD cream-nya. Kubaringkan dia disofa. Tanganku sekarang berusaha memegang payudaranya dari balik bra-nya. Kuangkat bra kirinya, kupegang langsung ke putingnya yang menonjol. "Aaacchhh.. Masss.. sshhh.. ssshh.." desahnya disela-sela nafasnya yang memburu. Sambil menatap matanya yang mulai sayu, tangan kananku mencoba melepas bra-nya. Tak ada penolakan sama sekali. Bukan main …….

Sekarang terpampanglah sepasang bukit kembar yang sangat indah. Putingnya yang coklat muda tampak menonjol di bukitnya yang putih. Kukecup putingnya, dia menggerinjal. Kucium payudara kirinya sambil kuremas susu kanannya. "Aaacchhh.. Masss.. sshhh.. ssshh.. aaduuhhh.." kedua tangannya menjambak rambutku. Kulirik dia, ternyata matanya sedang menerawang ke arah TV. Tanganku segera mengusap-usap pahanya, turun ke dengkul, naik lagi. Kuusap-usap vaginanya dari luar CD-nya. Sudah basah. Kumasukkan tangan kananku ke dalam CD-nya. Bulu rambutnya masih sedikit. Kuusap-usap bibir kemaluannya. Lalu kumasukkan jari tengahku ke liangnya. Becek banget ya.

Tanpa sadar, kubisikkan, "Put, Mas sayang banget sama Putri.."

"Mas.. Putriiii.. jugaaa sayaaaannngg Masss.." desahnya.

"Mas buka yaa.."

Dia menatapku tajam dan ragu. Tapi tanganku mulai menurunkan CD-nya. Dia tidak menolak, bahkan membantuku dengan menaikkan pantatnya. Setelah CD-nya terbuka, tampaklah seonggok daging yang indah sekali bentuknya. Agak tembem. Kucium perlahan. Baunya segar sekali. "Maasss.. aaahh.." desahnya keras sambil pantatnya terangkat ke atas.

Kugesekkan jari tengahku di sela-sela pahanya yang membuka. Kuusap seluruh permukaan vaginanya. Ketika menemukan klitorisnya, tangan ku gesekkan lembut. Dia menggelinjang keras."Aduuuhh.. Massss.. aaahh.. ennnaaakkk.. Masss.. terusss.. terruusss.. ooohh..gelliii.. Masss.. oohhh.." Sambil pantatnya goyang kiri dan kanan, naik dan turun.

Tak lama kemudian, tiba-tiba dia mengejang. "Aaahh.. Maasss.." Putri berteriak keras sekali. Dan, "Syur.. syurrr.." mengalirlah cairan kenikmatan dari liang vaginanya ketanganku. Ternyata Putri udah orgasme…..Matanya terpejam menikmati klimaksnya permainan ini.

Tiba-tiba terdengan suara mobil memasuki halaman rumah. Ternyata ortu Putri sudah pulang. Putri segera bangkit menuju kamarnya kemudian keluar lagi udah berganti t-shirt dan celana panjang. Lalu kami ngobrol seperti tidak terjadi apa-apa. Tidak lama kemudian aku segera pamit dan sesampai dirumah aku langsung masuk kekamar mandi untuk melepaskan hasratku dengan beronani ria sambil membayangkan sedang bercinta dengan Putri. Ohhhhhh….. Putriiii……..

Sekitar jam 19.00 Aku meluncur dengan motorku menuju rumah Ratna. Aku ingin tau persiapan pentas seni besok nya. Ketika sampai di rumah Ratna, ia sendiri yang membukakan pintu untuk ku, keliatannya rumahnya juga lagi sepi.

"Hai….. ", sapaku sambil senyum semanis

"Hai…. Masuk Ndre…..," ujarnya sambil menyilakan aku duduk

Dia memakai baju terusan warna pink. Aku memperhatikan wajahnya yang cantik, matanya yang bulat, hidungnya mancung, bibirnya tipis, alisnya cukup tebal, giginya putih berbaris rapi, rambutnya panjang, kulitnya putih, tinggi semampai, dadanya sudah menonjol cukup besar. Nggak salah kalo aku naksir dia.

Setelah basa-basi sedikit, aku mulai menanyakan soal persiapan pentas seni dan ternyata semua berjalan lancar. Setelah itu kami pun ngobrol hal-hal lain sambil nonton TV.

"Ndre…. Tadi sore aku nyariin kamu di sekolah, katanya kamu nganterin Putri pulang ya ?," tiba-tiba muka Ratna keliatan agak cemberut. Mungkin cemburu kali ya……

"Iya…tadi kan dia keseleo, jadi aku anterin pulang, abis itu aku langsung pulang karena ngantuk banget", ujarku bohong.

"Masa sih…. Tadi sore aku juga telpon ke rumah kamu. Adik kamu bilang kamu belom pulang," keliatannya Ratna bener cemburu nih…. Wah ge-er aku.

"Oh… itu memang dia nggak tau aku pulang, soalnya aku masuk diem-diem tadi", aku ngasih alasan seadanya. Ratna keliatannya percaya dan dia langsung duduk disampingku, menggelendot manja.

"Ndre….Menurut kamu, aku ini cantik nggak?" tanyanya tiba-tiba. Aku kaget juga mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu. Kakak kelas ku ini emang orang yang terbuka rupanya.

" Mmmm….cantik koq….kamu itu termasuk cewek tercantik disekolah kita," sahutku jujur sambil menatap wajahnya.

"Dan kamu iru bukan cuma cantik tapi juga sexy….." tambahku lagi.

Wajahnya langsung bersemu merah dan tersenyum. Bukan main cantiknya kalau lagi begitu.

"Bener.. Ndree.. kamu suka body-ku?" tanyanya lagi sambil berdiri, muter-muter di depanku. Dadanya disorongkan ke depan.

" Iya….. selain cantik, body kamu juga bagus banget. Tinggi……dan sory ya.. dada kamu juga bagus, pantatmu bulet, kakimu jenjang," kataku lagi sambil melihat seluruh tubuhnya.

Saat aku bilang seperti itu, dia langsung memegang dadanya.

"Kamu nggak bohong khaannn..?" katanya sambil memegang lenganku ditempelkan ke dadanya. Lunak dan hangat. Mau nggak mau penisku jadi tegang saat itu.

"Bener…buat apa boong," kataku meyakinkan.

Tiba-tiba seekor cicak jatuh dari atas langit-langit ruangan, Ratna kaget dan langsung memelukku. Aku yang tidak menyangka akan dipeluk begitu, jadi jatuh terbaring di sofa. Secara refleks aku menangkap tubuhnya, sehingga dia jatuh di atasku. Terasa daging kenyal itu menyentuh dadaku. Wajahnya dekat sekali dengan wajahku, kami berdiam saling menatap. Matanya perlahan meredup dan bibirnya sedikit terbuka, seperti terhipnotis, aku mendekatkan bibirku dan mencium lembut bibir Ratna, Kukulum dan kumainkan lidahku dalam mulutnya. Ratna membalas dengan agresif.

Wajahnya jadi semakin cantik. Aku tidak tahan, maka kurangkul dia. Aku cium rambutnya, pipinya, lalu keningnya, hidungnya, matanya. Dia pasrah kucium begitu. Tanganku pun langsung meremas Payudaranya. Sudah agak keras dan putingnya sudah terasa menonjol keluar, ternyata Ratna tidak memakai bra. Penisku langsung membengkak.

Tangan ku bergerak kearah punggungnya dan membuka resluting gaun terusannya lalu perlahan kuturunkan gaun itu kebawah. Maka terpampanglah dua bukit kembarnya yang ternyata memang besar dan kencang. Bentuknya bulat. Sangat indah dengan puting berwarna coklat muda kemerahan. Lalu aku melepaskan kancing bajuku dan melemparkannya kebawah, dengan bertelnajng dada kupeluk dia. Nikmat sekali dadaku menyentuh payudaranya. Putingnya serasa menggelitik dadaku setiap kugesek-gesekan badan ku.

"Ahhhh…..", Ratna merintih . Aku pandangi mukanya, aku tatap matanya. Ada kesan pasrah dimatanya. Aku cium matanya, dia terpejam. Aku cium pipinya, keningnya, kukecup hidung, lalu makin mendekati mulutnya. Bibirnya pasrah menerima bibirku tanpa perlawanan. Aku selusupkan lidahku disela-sela giginya. Mulutnya sedikit membuka. Lidahku mulai menari-nari di lidahnya. Mulut dan ludahnya manis. Dia mulai menghisap lidahku. Lalu lidahnyapun mulai bergerak-gerak. Mulai melawan lidahku. Tangan kiriku masih mengelus2 punggungnya, tangan kananku dilehernya. Suasana hening, hanya desah napas kami yang terdengar. Kulepas ciumanku, kutatap matanya. Matanya sayu, nafasnya naik sudah agak memburu. Lalu tiba-tiba dia mencium bibirku dengan ganas. Pindah kemataku, lalu pipiku. Wajahku basah oleh ludahnya. Ciumanku kuturunkan ke lehernya. Dia menengadahkan kepalanya. Tangan kananku pun kembali meraba dadanya. Kuusap-usap perlahan sampai puting kecilnya semakin menonjol keras. Bergantian kiri dan kanan.

"Aaahhh.., Ndreee.., eennnaaakkk.. .! Aaahhh..!" dia mulai mengeluarkan suara desahan.

Lalu kurebahkan dia di sofa. Kupandangi lagi tubuhnya. Kupandangi payudaranya, betul-betul sempurna bentuknya, dengan puting kemerahan yang menonjol di bukit putih mulus dengan guratan tipis urat-urat susunya. Payudara gadis yang menanjak dewasa, yang belum tersentuh oleh jamahan lelaki manapun. Kucium bukitnya, dari lembah sampai mendekati puncaknya. Tanganku meremas yang satunya. Begitu berulang-ulang. Aaahh wanginya. Wangi khas perawan muda.

"Aahhh.., Ndreee.! Aaddduuuhhh..! Shshshsh..!" tubuhnya menggeliat sambil dadanya didorongkan ke atas, kedua tangannya menekan kepalaku ke dadanya.

Tanganku yang satu mulai menelusuri betisnya, naik secara perlahan-lahan ke arah pangkal pahanya. Bergantian kiri dan kanan. Terkadang kuremas perlahan pantatnya. Setiap kuremas, pantatnya terangkat ke atas. Lalu tanganku mulai mengelus-ngelus bibir kemaluannya dari luar CD putih-nya. Terasa lembab sekali. Pahanya mulai membuka lebar, seakan meminta tanganku untuk berbuat lebih jauh. Kuselusupkan tanganku ke dalam CD-nya. Kuselusuri garis lubang kewanitaannya dengan jari tengahku.

Ratna seperti tersentak dan tangannya bergerak menahan tanganku, lalu menarik tangan ku keluar dari CD nya.

"Jangan ya Ndre…. Aku takut….Kita belum boleh melakukannya ", Ratna berbisik lembut dan membawa tanganku ke payudaranya lagi.

Aku maklum dan memahami nya, dan tidak menyentuh vaginanya lagi. Kukonsentrasikan belaian dan ciumanku pada payudaranya yang indah hingga akhirnya Ratna mengejang sambil membenamkan erat-erat kepalaku di dadanya. Oohhhhhh……….. Rtana sudah orgasme…….

Aku mengecup keningnya sambil membelai rambut nya yang panjang dengan lembut, Ratna terkulai lemah dan mencoba mengatur nafasnya kembali.

"Aku sayang kamu Ndre……", bisiknya tersengal…….

“Aku juga sayang ama kamu Rat…..”, bisikku mesra.

Akhirnya malam itu kami pun resmi jadian.

Dan aku pulang dengan gembira, malamnya aku kembali beronani ria sambil membayangkan sedang mencumbui Ratna ku sayank……….

- End -

Taglines: Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita Hot, Sensual Story

ads

freezy