Mawar Biruku

6:01 AM

(0) Comments

Kisah ini adalah kisah nyata yang terjadi di Yogyakarta pada tahun 1994. Aku yang waktu itu hobi dengan dunia breaker kuliah pada sebuah PTN di kotaku. Saat ini aku di Jakarta dan bekerja di sebuah perusahaan swasta.

"Breakk!" terdengar suara wanita dari pesawat 2 meteran yang ada di samping tempat tidurku.
"Roger, everybody silent, please.."
"Silahkan digunakan frequensinya mbak, stand by", menyahutlah sebuah suara merdu..
"Hm.. mau ngajak pergi operatornya aja, mau yah?. Aku tunggu di 147. 080 Mhz.., stand by, cheerio.."
Tanpa kusia-siakan lagi aku berucap..
"Nett operator stand by, cheerio.." dan kutuju frekuensi yang diminta oleh pengundangku.

Setelah bertemu dan berkenalan, kami berdua ngobrol cukup lama dan tak terasa 4 jam telah kami lalui dengan cepatnya. Mawar, nama samaran yang cukup menarik.

"Mawar, aku tuh orangnya romantis.. mau makan malam dengan cahaya lilin, musik instrumental, dan setangkai mawar..?" kataku setelah sekian lama banyak bicara.

"Okay, kalo gitu datang aja ke kostku besok malam, tapi ada syaratnya.."

"Apa..?" seruku

"Kamu harus datang dengan pakaian resmi, rapi, berdasi, dan setangkai mawar untukku. " sahutnya lagi.

"Okay, jam 7 malam aku datang. See u tomorrow.. bye.." sahutku sambil menutup pembicaraan kami.

Keesokan malamnya, tepat pukul 06.30 malam dengan berpakaian yang sangat "wah", dengan berjaket kupacu sepeda motorku menuju rumah kos Mawar yang telah ditunjukannya. Sampailah sepeda motorku di sebuah mulut gang yang dimaksud, selanjutnya aku harus mencari rumah di tepi kiri jalan yang menyetel kaset Kenny G dengan keras seperti yang dijanjikannya. Tanpa kesulitan yang berarti kutemukan rumah kos yang ditempatinya. Setelah kumasukkan motorku ke halaman, kuketuk pintunya. Seorang wanita berumur sekitar 25-an tahun dengan gaun malam potongan dengan rok panjang warna biru yang menarik. Wajahnya biasa saja dengan kulit kehitaman. Tubuhnya ramping dan berisi (belakangan kutahu ternyata dia anggota menwa di kampusnya) dengan payudara yang tak terlalu menonjol (aku memang lebih suka payudara yang tidak terlalu besar).

"Hallo selamat malam.." sapaku

"Hai Jalu, ayo masuk aja.." katanya sambil tersenyum manis.

"Ini buat kamu. " kataku seraya menyodorkan setangkai mawar yang kulindungi dari angin agar tidak rontok di balik jaketku.

"Wah.. cantik sekali.." jawabnya.

"Lho kok sepi sekali kos nya?" tanyaku sambil melepas jaketku.

"Iya, dah pada diusir semua. Mau ditempatin sendiri sama yang punya rumah. Tinggal aku sendirian. Yuk ke kamar aja, disini gak ada kursi dan perabotan" katanya lagi.

Setelah masuk ke dalam kamarnya, kulihat warna biru mendominasi kamar itu. Tembok, karpet, bahkan sprei kasurnya pun berwarna biru, warna kesukaanku. Di tengah kamarnya yang tidak begitu luas dan lampu yang warna biru 5 watt terdapat sebuah meja kecil dengan dua piring makanan saling berhadapan, dan sebuah lilin yang telah menyala diantaranya. Wow.. benar-benar romantis.. Setelah duduk berhadapan, kami mulai makan malam sambil bercerita hal-hal yang lucu tanpa membicarakan pribadi kami masing-masing seperti yang telah kami sepakati sebelumnya.

Tanpa terasa 2 jam kami ngobrol dan bercanda, memang kuakui dia orang yang supel dan humoris. Sampai pada saat kami berdua diam karena kehabisan bahan pembicaraan. Mawar mengambil kartu dan memainkannya, itupun tak berlangsung lama karena kami bosan. Aku melirik jam dan kulihat jarum jam telah menunjukkan angka 10. Masih terdengar lagu Kenny G dari tape yang terletak di sudut kamarnya, saat itu kami sangat berdekatan. Akhirnya aku berdiri dan kuajak dia berdansa. Kami terhanyut dalam alunan musik yang indah. Kami saling berdekapan. Kutempelkan mulut dan hidungku ke lehernya yang jenjang.

"Uhm.." kudengar gumam yang tak jelas dari bibirnya.

Entah siapa yang memulai, bibir kami sudah saling berciuman dengan lembut, mesra, dan panjang. Tanganku pun mengelus-elus punggungnya sehingga membuatnya terangsang. Semakin lama bibir kami semakin buas berciuman. Lidahku dan lidahnya saling menari dan berebut menyedot, badan kami saling menempel seolah tak mau kehilangan jarak 1 centi pun. Aah.. nikmatnya berdansa sambil berciuman dan dengan diiringi musik indah yang entah sudah berapa kali terputar (thanks mr. Kenny).

Tiba-tiba dia menarik dasiku, melepasnya, kemudian melepas bajuku dan menciumi dadaku. Uuh.. akupun melenguh kenikmatan. Sambil tetap memeluknya, tangan kananku mulai melepas bajunya.. dan tersembullah dua tonjolan di dadanya. Kuremas halus, dan mulai kuhisap putingnya. Dia menggelinjang keenakan. Kuraba punggungnya dan kulepaskan kait bra-nya yang juga berwarna biru, jadilah kami berdua bertelanjang dada sambil masih tetap berdansa. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan yang ada, langsung aku pelorotkan rok panjangnya.. dan.. wow.. ternyata CD-nya biru juga.. Wah.. I love the blue.. Tiba-tiba kutersadar ada sesuatu yang melorot, oh.. ternyata celanaku juga sudah melorot tanpa hambatan. Sungguh satu hal yang menggairahkan berdansa hanya dengan menggunakan celana dalam saja.

"Jalluu.." rintihnya saat kupegang gundukan di balik celana dalamnya.

Kuraba dan kutekan. Hingga akhirnya tanganku masuk ke dalam celana dalamnya. Kumainkan kloritisnya dan tangannya pun sudah masuk ke dalam celana dalamku. Kami saling meraba, membelai, dan mempermainkan kemaluan. Ahh.. nikmat sekali. Lalu kudengar saxophone berirama cepat.. Oh.. kudorong tubuh Mawar sehingga kami berdua jatuh di kasur. Kucium dan kujilati tubuhnya. Bibir, tengkuk, kulumat kupingnya.., hingga turun ke bawah dan kudapati 2 buah tonjolan di dada. Humff.. kulumat keduanya secara bergantian, sementara tanganku tak lepas dari vaginanya.

Mawar melenguh bagai orang kesetanan.. Kujilati terus tubuhnya, semakin turun dan mendaratlah bibirku pada lubang kewanitaannya. Kulepaskan celana dalamnya dan kubuang begitu saja. Hm.. bau sedap aroma khas wanita. Secara tiba-tiba aku hentikan kegiatanku.

Mawar terbangun dan bertanya.."Kenapa berhenti Jalu? Kamu.."

Kututup bibirnya dengan telunjukku. Dia diam, dan melihatku beranjak dari kasur. Kuambil sebuah botol minyak wangi dari meja riasnya, kemudian kucipratkan di vaginanya. Kembali bibirku melahap bukit mungil milik Mawar. Dahsyat sekali rasanya, aroma wewangian itu membuatku lebih tergila-gila. Kucium, kujilat, bahkan terkadang kugigit pelan klitorisnya. Mawar yang tidak menyangka serangan mendadak itu tergelepar tak berdaya. Tangannya mengobrak-abrik rambutku dengan ganasnya. Kumasukkan jari tengahku dan kuputar di dalam vaginanya mencari titik kenikmatan wanita sambil terus kujilati klitorisnya.

Tiba-tiba kakinya mengejang, kepalaku dijepitnya dengan keras sehingga aku tidak dapat bergerak lagi. Ow.. rupanya sang pembawa kenikmatan sudah tiba. Setelah beberapa saat mengejang sambil terus kujilati dan kusodok dengan jariku.

Mawar terkulai.. dan berbisik.., "Jal, Jalu.. udah, udah dulu dong.."

Akupun serta merta menghentikan kegiatanku dan berbaring di sampingnya.

"Ugh.. gila kamu Jalu" kata Mawar sambil mengecup bibirku. "Okay, sekarang giliranku yah.." katanya lagi.

Aku tersenyum dan kubiarkan dia duduk di atasku.

Tanpa basa-basi dipegangnya kemaluanku kemudian dikocoknya perlahan. Kupikir dia akan mencium bibirku terlebih dahulu, ternyata dugaanku salah. Dia langsung melorot ke bawah dan menjilati bola kemaluanku. Ugh.. aku tidak menyangka secepat itu. Dikulumnya bolaku sambil terus mengocok penisku dengan lembut. Gila, kenikmatan dari sebuah serangan mendadak yang dilancarkannya. Tanpa melepas penisku, dia terus menjilat bagian bawah kemaluanku, bahkan sampai ke anusku. Ditusuknya anusku dengan lidahnya. Terus terang akupun merem melek dibuatnya. Baru sekali ini aku merasakan dioral sampai ke anusku, walaupun aku sudah sering saling mengoral dengan pacar-pacarku. Sensasi lain datang saat dia menjilat antara anus dan bola kemaluanku. Betul-betul nikmat ditambah dengan kocokan halus di batang kemaluanku.

Jilatan Mawar kemudian menjalar sampai ke batang dan humm.. masuklah batangku ke mulutnya. Lidahnya menari-nari di atas kepala bazokaku. Tangannya menggerayangi dadaku dan bibirku. Kuemut jarinya dan kusedot, rupanya itu membuat dia bereaksi. Kocokan dengan mulut tanpa tangannya bertambah cepat dan sedotannya.. bukan main, seperti disedot vacuum cleaner. Setelah lima menit dalam kuluman dan kocokan dengan tempo cepat yang konsisten, membuat kemaluanku berdenyut cepat, Mawar merasakan hal itu dan datanglah bantuan yaitu tangannya untuk mengocokku. Agghh, tak tahan aku dengan permainannya dan menyemburlah cairan maniku di mulutnya. Mawar kaget dan segera menarik mulutnya, sesaat dipandanginya cairan kental yang meleleh di batang kemaluanku, kemudian dijilatinya kepala kemaluanku dengan lembutnya.

"Hmm.. rasanya agak asin yah. Baru sekali ini aku merasakan air mani, ternyata enak juga" kata Mawar.

Akupun tersenyum dan menarik tubuhnya ke atasku. Kamipun tertawa dan saling berciuman.

Sambil istirahat, kami ngobrol dan bercanda. Tapi itupun tak berlangsung lama. Aku berbalik, dan langsung menjilati vaginanya dengan posisi 69. Ow.. kami kembali saling menjilat, dan mempermainkan kemaluan kami. Setelah sekitar 15 menit kami ber-69, kutiduri dia dan kugesek-gesekkan kemaluanku dia atas vaginanya.

"Ughh.. masukin Jal, sekarang, please.." teriak Mawar seakan tak sadar apa yang diucapkannya.

Ups.. aku terdiam

"Aku belom pernah masukin kemaluanku.." bisikku. "Kalo hamil gimana?" sebuah pertanyaan bodoh yang kuucapkan di saat-saat genting seperti itu.

"Udah deh masukin aja, aku ga bakal nuntut kamu kawinin aku kok. Tenang aja, semua aku tanggung deh resikonya" Mawar berkata sambil membimbing kemaluanku memasuki liang kenikmatan surga dunia.

Setelah masuk sedikit kepalaku, aku tekan pantatku dan.. bluuppp.. masuklah semua batangku ke lubangnya. Oh.. ternyata dia sudah tidak perawan, pikirku. Entah karena aku yang masih perjaka (karena selama ini hanya oral dan petting dengan pacar-pacarku, tapi rajin sih nonton BF), atau memang lubang Mawar yang masih sempit, kemaluanku serasa dipijit dan disedot dengan kencang, wah enak sekalee. Perlahan aku gerakkan pantatku maju mundur dengan gaya konvensional. Maju mundur, maju mundur.. begitu seterusnya dengan tempo yang semakin lama semakin cepat. Selama 15 menit kami bergaya itu dan kupikir kuat juga nih cewek, oh yap pantes aja, dia kan anak menwa.. kataku dalam hati. Kamipun lalu berguling, giliran Mawar di atas. Dia berjongkok dan kemudian bergerak naik turun membuat kemaluanku terasa seperti diurut.

"Oughh.." keras aku setengah berteriak.

Diapun lalu bergoyang kanan kiri sambil tetap naik turun.

Untung aku tadi siang banyak istirahat di rumah sehingga staminaku tidak terkuras dan kalah dalam meladeni Mawar. 20 menit dengan gaya itu membuat dia basah oleh keringat yang bercucuran layaknya seorang pelari marathon. Akupun kemudian mengambil inisiatif dengan mengajaknya untuk posisi doggy style. Kuusapkan perlahan kepala kemaluanku dan kuhentakkan dengan kasar ke dalam vaginanya. Mawar menjerit kaget atas perbuatanku.

"Terus Jal.. teruss.. hmmff.. enakk.."

Akupun semakin semangat dalam menggenjotnya, diapun membalas gerakanku dengan menggoyangkan ke kiri dan kanan.

Tiba tiba dia menjerit.., "Auww.. cepet Jal, yang keras".

Akupun mempercepat gerakanku dan terasa kemaluanku berdenyut..

"Mawar, aku hampir sampai.." aku berteriak tanpa menghentikan sodokanku.

"Iyah.. aku juga.. Tahan sebentar Jaluu.."

Heh.. hh.. napasku tersengal-sengal..

"Jalu, keluarin di dalam aja, gak pa pa.." teriak Mawar yang rupanya juga menahan kedatangan puncak kenikmatan itu.

Akupun semakin bernafsu dan.. cret.. cret.. cret.. tumpah sudah maniku ke dalam rahimnya. Tiba-tiba badan Mawar menggelinjang dan menegang..

"Aghh.." dia berteriak melepas cairan kenikmatannya.

Kamipun mencapai orgasme pada waktu yang bersamaan. Tubuh kami berdua lunglai, dan kamipun ambruk. Kami terdiam beberapa saat.. kemudian kukecup kening dan bibirnya, dan kamipun berpelukan tanpa berkata-kata.

"Jalu, kamu bohong ya belum pernah ML?" tanya Mawar.

"Swear, belom.." kataku dengan jujur.

"Kok bisa kuat banget sih?"

"Siapa dulu gurunya..?" godaku sambil kembali melumat bibirnya.

"Weekk.." sahut Mawar sambil mencibirkan bibirnya.

Kamipun beristirahat dan kembali melakukan ML berulang-ulang sampai matahari pagi menerobos jendela kamar Mawar. Sungguh satu pengalaman pertama yang tak mungkin kulupakan, dan mungkin sudah tidak bisa lagi aku ulangi. Bayangkan saja kami melakukannya sebanyak 15 kali dalam semalam. (Ini betulan lho, swear). Entah sekarang Mawar dimana. Setelah malam itu kami melakukannya lagi 2 hari berikutnya, hanya saja sampai jam 1 malam. Itupun kami melakukan 9 kali. Wow, sungguh suatu rekor melakukan ML yang tak pernah tersamai olehku sampai saat ini.

- End -

Taglines: Cerita Panas, Mawar Biru, Blue Rose

ads

freezy

0 Responses to "Mawar Biruku"

Post a Comment