Ningsih

6:06 AM

(0) Comments

Namaku sebut saja Ningsih (18) aku seorang pembantu rumah tangga di sebuah keluarga kaya raya di Jakarta. Pekerjaan ini terpaksa aku lakukan karena aku hanya lulusan SMP dan aku butuh uang untuk membantu ekonomi keluargaku di kampung. Kata orang wajahku lumayan cantik dengan proporsi tubuh tinggi 164 cm dan berat 48 kg. Kulitku juga bersih dan mulus.

Terus terang aku senang bekerja sebagai pembantu di keluarga nyonya Rini ini. Majikanku penyabar memberi gaji bulanan yang cukup dan memperlakukanku dengan baik. Suami majikanku seorang pengusaha sementara nyonya Rini seorang dosen.

Kisah yang akan aku ceritakan ini bermula saat putra tunggal majikanku, Mas Rafy 22th, pulang karena liburan dari kuliahnya di Australia. Saat aku baru menjadi pembantu mas Rafy sudah kuliah di Australia sehingga baru saat dia pulang liburan inilah aku bertemu dengannya.

Putra majikanku itu ternyata juga ramah seperti kedua orang tuanya, Dia juga tampan dan tubuhnya atletis. Hanya beberapa hari setelah bertemu aku sudah akrab denganya. Aku nggak menyangka kalau aku akan terlibat kisah asmara dengannya.

Ceritanya pagi itu aku dipanggil oleh putra majikanku itu. Sampai di kamarnya aku kaget banget karena waktu itu mas Rafy sedang nonton film dewasa. Aku kikuk banget tapi Mas Rafy santai sekali, sama sekali tidak malu meski ketahuan sedang nonton film begituan. Aku jadi menundukkan kepala karena malu.

"Mas Rafy memanggil saya ada apa?" tanyaku dengan gugup sambil berusaha untuk tidak melihat tontonan panas di TV 21 inci yang sedang ditonton oleh putra majikanku itu.

"Iya… tolong rapikan tempat tidurku dan mejaku, aku mau mandi dulu." katanya setelah bangkit dari tempat tidurnya. Ia lalu menepuk bahuku dan pergi dengan santainya ke kamar mandi tanpa mematikan pesawat TV nya yang masih menayangkan film panas dari VCD.

Setelah Mas Rafy pergi ke kamar mandinya aku lalu merapikan tempat tidurnya yang berantakan. Adegan panas yang ada di TV bisa aku lihat dengan jelas menampilkan adegan sepasang pria dan wanita bule yang sedang berhubungan intim di atas ranjang. Saat itu tubuhku panas dingin menyaksikannya. Setelah ranjang mas Rafy selesai aku rapikan, tanpa sadar aku duduk di tepi ranjang dan justru menonton film dewasa yang baru pertama kalinya aku saksikan itu, sampai lupa untuk merapikan meja Mas Rafy yang berserakan dengan buku dan majalah.

Adegan film panas itu membuat tubuhku panas dingin dan tanpa sadar aku lupa diri, tanpa sadar aku meremas-remas buah dadaku dengan tangan kiri sementara tangan kananku merabai selangkanganku sendiri. Kegiatan nonton dan merangsang diri sendiri itu tanpa sadar kulakukan beberapa menit hingga aku tidak tahu kalau mas Rafy sudah selesai mandi. Tiba-tiba saja ia sudah duduk di sampingku dengan tubuh setengah telanjang karena hanya handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya.

"Bagus ya filmnya.." katanya tiba-tiba yang membuat kaget setengah mati.

Aku jadi malu sendiri. Aku tundukkan kepalaku, tubuhku panas dingin dan wajahku waktu itu pasti merah karena malu dan juga karena adegan film itu membuatku terangsang sekali.

"Maaf mas, mejanya belum dirapikan.." kataku seraya bangkit dan hendak merapikan mejanya.

"Nggak usah, nanti saja... filmnya kan belum selesai. Tanggung temani aku nonton ya" katanya sambil memegangi tanganku.

Bagai kerbau dicongok hidungnya aku menurut saja dan kembali duduk di tepi ranjang. Saat itu aku salah tingkah, kikuk dan tubuhku serasa panas dingin. Saat itu adegan film menampilkan adegan oral seks yang dilakukan si wanita pada pasangan prianya. Adegan film panas ditambah dengan mas Rafy yang duduk di sampingku tengah santai menonton dengan tubuh atletis yang hanya ditutupi handuk membuatku begitu terangsang.

Lalu putra majikanku itu mendekatkan tubuhnya hingga mepet dengan tubuhku. Dia lalu meraih daguku dan mendekatkan bibirnya ke bibirku.

"Ningsih kamu cantik sekali" katanya dengan lembut.

Saat itu aku tidak tahu harus bagaimana. Pikiranku kacau, seharusnya aku segera berlari keluar dari kamarnya untuk menghindari hal-hal buruk yang akan terjadi. tapi aku hanya bisa diam dan tubuhku terasa kaku. Akhirnya bibirku dikecup dan dikulum oleh mas Rafy.

Mungkin karena aku sudah terangsang gara-gara nonton blue film tadi, aku jadi pasrah dan diam saja waktu tubuhku direbahkannya dan ciumannya sudah pindah ke leherku.

"Ohh… mas.." desahku tanpa sadar waktu tangan putra majikanku itu mengusap pangkal pahaku dengan rangsangan yang hebat.

Tanpa aku sadari mas Rafy telah melucuti pakaianku. Setelah BH-ku dilepasnya dia lalu menciumi dan mengulum lembut puting susuku. Aku mendesah dan makin terangsang karena hal itu belum pernah aku rasakan sebelumnya.

Aku mendesah dan menggeliat keenakan saat bibir dan lidahnya menyapu permukaan buah dadaku yang berukuran bra 36B itu. Apalagi saat puting susuku disedot dan dikenyotnya dengan penuh nafsu. Waktu itu aku sudah tidak bisa berpikir sehat, yang ada dalam pikiranku adalah aku ingin merasakan kenikmatan. Aku jadi berani lalu menarik handuk yang melilit tubuh mas Rafy hingga terlepas, aku terkejut melihat ukuran alat vital putra majikanku itu yang begitu besar dan telah berdiri tegak dengan gagahnya.

Dia lalu melolosi celana dalamku dan mengarahkan alat vitalnya ke arah kewanitaanku. Saat ujung senjatanya yang digeser-geserkan di bibir kewanitaanku, aku jadi terangsang hebat. Tapi tiba-tiba aku merasakan sakit saat liang kewanitaanku diterobos oleh kejantanan mas Rafy. Aku merintih dan menjerit kecil saat mas Rafy menarik dan mendorong kepunyaannya itu.

"Aduh Mas.. sakit" rintihku.

"Nggak apa-apa… nanti sebentar juga hilang sakitnya." bisiknya di telingaku dengan mata merem melek merasakan nikmat.

Benar juga katanya, lama-lama rasa sakit dan perih di kewanitaanku berangsur-angsur hilang dan kini hanya rasa nikmat yang kurasakan.

"Aaaaahhh... ohhhh" desahku sambil mulai menggoyangkan pinggulku untuk mengimbangi gerakan mas Rafy.

Saat itu aku tak peduli dan tak memikirkan sama sekali bahwa aku telah kehilangan keperawananku. Yang aku inginkan adalah kenikmatan yang semakin nikmat karena mau mencapai puncak. Mas Rafy terus menyetubuhiku sambil bibirnya mengulum-ngulum bibirku. Akupun kini membalas lumatan bibirnya dan permainan lidahnya di dalam mulutku sambil sesekali terus mendesis dan merintih karena sodokan-sodokan kejantanannya di kewanitaanku.

Beberapa menit kemudian seluruh persendian tubuhku serasa menegang.

"Ohhh… mas… terus mas" desisku tanpa sadar.

Putra majikanku itupun makin bernafsu dan menyetubuhiku dengan lebih beringas dan makin cepat gerakannya, sampai akhirnya "Aaaahhhhhh...." dengan lenguhan panjang aku mencapai puncak kenikmatan

Tahu kalau aku telah mencapai puncak, lalu dia mencabut senjatanya dari liang vaginaku. Kulihat ada percikan darah di batang kemaluannya. Dia lalu memintaku untuk melakukan oral seks seperti yang tadi aku tonton di blue film. Aneh, aku sama sekali tidak menolaknya dan justru ingin melakukannya. Lalu mas Rafy merebahkan tubuhnya dengan punggung bersandar di tumpukan bantal. Sementara aku duduk bersimpuh di antara kedua kakinya. Ukuran alat vitalnya yang besar dan panjang itu rupanya membuatku jadi sangat bernafsu. Aku tidak menyangka kalau aku yang gadis dusun ini memiliki nafsu seks yang tinggi yang sebelumnya tidak aku sadari.

Lalu aku mempraktekkan apa yang tadi aku tonton di blue film. Ujung rudal mas Rafy mulai aku cium dan aku jilati lalu aku masukan ke dalam mulutku dan aku kocok. Majikan mudaku itu mengerang dan menggeliat merasakan nikmat.

"Terus Ning… ohh… ohhh" desahnya.

Aku juga diminta untuk menjilati bagian bawah kemaluannya dan buah zakarnya sedangkan tanganku mengocok batang kemaluannya.

Setelah puas dengan permainan oral seks-ku, aku diminta duduk di atas senjatanya. Permainanpun dilanjutkan dimana aku berada di atas. Kemudian aku bergoyang naik turun sementara putra majikanku itu mendekap pantatku dan sesekali mendorongkan pantatnya ke atas mengimbangi goyanganku. Rintihan dan desahanku bersahutan dengan lenguhan mas Rafy yang tengah berpacu menuju puncak.

Beberapa saat kemudian aku sepertinya akan kembali mencapai puncak dan sepertinya mas Rafy juga. Ia lebih agresif mendorongkan senjatanya ke atas. Tak berapa lama aku kembali menegang dan mencapai puncak lalu disusul dengan teriakan mas Rafy yang juga mencapai puncak.

"Ohhh… ohhh… Ningsih aku keluar sayang… ohhh… ahhh" teriaknya sambil menancapkan pelornya dalam-dalam ke liang vaginaku yang masih mendudukinya. Air mani hangat menyembur membasahi bagian dalam kewanitaanku.

Dengan tubuh kelelahan dan lunglai seolah tak bertulang, aku terkulai di atas dada putra majikanku yang berbulu dan berkeringat itu. Aku memeluknya erat seolah tidak mau kehilangan saat-saat yang penuh kenikmatan itu. Sama sekali tidak ada penyesalan meski aku baru saja kehilangan keperawananku.

Setelah kejadian pagi itu kami masih sering melakukan hubungan intim yang terlarang itu selama mas Rafy belum kembali ke Australia untuk melanjutkan kuliahnya. Beruntung aku tidak sampai hamil oleh kejadian ini, mungkin belum tapi semoga saja memang tidak. Sekarang liburan mas Rafy sudah selesai sehingga dia kembali melanjutkan kuliahnya di Australia. Aku benar-benar kesepian dan ketagihan dengan permainan seksnya. Harapanku mas Rafy tidak melupakan aku meski aku tidak terlalu berharap ia akan menikahiku.

- End -

Taglines: Cerita Panas, Sexy Ningsih, Ngewe

ads

freezy

0 Responses to "Ningsih"

Post a Comment